Google
 

Tuesday, April 29, 2008

Tulip Shaped Anthurium

Anthurium amnicola Tulip shaped anthuriums have become increasingly popular because of their unique shapes and colors. New cultivars of plants are still being discovered in nature and introduced to the ornamental tropical flower market. Our grower is the leader in producing these new and unusual anthurium varieties

Readmore...

Kesalahan Perawatan Yang Sering Dilakukan (Deni Kurniawan/catatan seorang pemilik nursery)

Dalam perawatan anthurium sebenarnya tidak membutuhkan langkah-langkah khusus yang sulit dilakukan, tetapi masih banyak para hobiis terutama pemula masih mengeluh bahwa Anthuriumnya mengalami gangguan penyakit hama atau jamur, daun kerdil dan pucat, terjadi kebusukan akar dan batang, tunas daun tumbuh abnormal, tangkai memanjang tidak seperti anthurium lain yang sejenis, tongkol tidak bisa jadi, dan masih banyak lagi. Pada umumnya, berbagai gangguan tersebut di sebabkan beberapa kesalahan sebagai berikut : 1. Terlalu sering disiramPara penghobi biasanya terlalu sayang pada tanamannya dan melakukan penyiraman terlalu sering karena takut Anthuriumnya mengalami kekeringan. Memang pada bagian atas media terlihat cepat kering tetapi mereka tidak mengecek kelembaban media dibagian dalam. Hal ini bisa di antisipasi dengan menggunakan media tanam seporous mungkin dan melubangi sisi pot untuk kebutuhan udara pada akar. Anthurium hanya membutuhkan kelembaban yang terjaga, bukan media yang basah terus menerus. Anthurium bisa menyerap makanan melalui udara karena itu berikan media yang tidak terlalu padat untuk menjaga susunan udara pada media tetap terjaga. Sebelum menyiram anda bisa mencelupkan jari anda pada media, apabila terasa masih lembab sebaiknya penyiraman ditunda dulu. 2. Takut memotong bagian tanaman yang sakitJika mengalami gangguan seperti daun timbul bercak yang cukup parah, para penghobi merasa sayang untuk memotong bagian yang sakit. Mereka melakukan pengobatan berharap daun yang sudah rusak ( kuning,kering ) kembali menjadi hijau. Perlu diperhatikan jika kerusakan sudah parah sebaiknya langsung di potong saja, karena penyebaran penyakit sangat cepat terutama jenis jenmanii. Anthurium yang sakit akan mengakibatkan pertumbuhan yang lambat, jadi lebih baik anda tidak ragu untuk memotong bagian yang sakit tetapi tunas baru bisa tumbuh lebih cepat. 3. Takut untuk mengecek kesehatan akarSeringkali hobiis takut membongkar media untuk mengecek kesehatan akar Anthurium, mereka terlambat membongkar media dan kebusukan akar sudah parah, pada tingkat parah kebusukan akar bisa dilihat dengan pertumbuhan yang berhenti dan daun lama mulai menguning. Akar yang sehat sangat penting bagi optimalnya pertumbuhan Anthurium, apabila akar terlalu sedikit dan masih dalam penyembuhan nutrisi akan digunakan untuk tumbuhnya akar dulu, sehingga pertumbuhan tunas akan berhenti sampai akar tumbuh cukup banyak. Jadi lakukan pengecekan akar secara berkala dan jangan takut kalau Anthurium akan stress apabila dibongkar medianya, yang penting menjaga akar tidak putus ketika media di bongkar. 4. Ragu untuk melakukan repottingUkuran pot harus selalu disesuaikan dengan besar tanaman, umumnya para hobiis membiarkan Anthurium tumbuh besar tetapi pot tidak diganti. Yang terjadi akar tidak bisa tumbuh bebas dan saling membelit satu sama lain karena pertumbuhan akar sudah menyentuh batas tepi pot, hal ini menyebabkan Anthurium terganggu pertumbuhannya terutama pada ukuran induk yang menghambat pertumbuhan tongkol. Lakukan repotting ketika akar sudah menyentuh tepi pot, hati-hati jangan sampai teralu banyak akar yang putus, ganti media tanam lama dengan yang baru dan sterilkan terlebih dahulu. 5. Ingin yang serba praktisAnthurium berharga mahal tentu saja hanya dimiliki oleh kalangan berduit yang tentu saja menjalani kesibukan dalam rutinitas sehari-hari. Umumnya mereka hanya memberikan pupuk kimia yang praktis dalam kemasan dan meninggalkan pemakaian pupuk organik. Dan biasanya karena ingin Anthurium cepat tumbuh besar mereka memberi pupuk kimia terlalu banyak/over dosis. Pupuk organik juga dibutuhkan untuk lebih cemerlangnya tampilan daun Anthurium ataupun produktivitas tongkolnya, dan terjadinya over dosis pada pemberian pupuk kimia sangat fatal akibatnya. Tetaplah memakai pupuk organik dan pergunakan pupuk kimia sesuai dosis yang dianjurkan. 6. Tidak bisa bedakan variegata dan penyakitSeringkali karena melihat warna daun yang kuning atau putih samar para hobiis mengira bahwa tanamannya mengalami mutasi menjadi variegata. Nah beberapa hari kemudian mereka baru menyadari bahwa itu disebabkan gangguan hama, jamur atau kekurangan unsur yang dibutuhkan. Ini masih sering terjadi terutama pada pemula yang memang belum tahu tentang variegata yang sebenarnya. 7. Lupa untuk menjemur di sinar matahariBagi para penghobi yang belum punya green house yang memenuhi syarat dengan naungan shading net, umumnya anthurium diletakkan di teras atau dalam ruangan yang teduh di dalam rumah. Apalagi dengan banyaknya kasus pencurian anthurium mereka takut anthuriumnya hilang dan selalu menempatkan didalam ruangan tanpa memperhatikan kebutuhan sinar matahari untuk fotosintesis. Rajin-rajinlah menjemur Anthurium di pagi hari semakin sering semakin baik, untuk menjaga kesegaran warna dan tumbuh roset sesuai harapan. 8. Terlalu rajin mengkilapkan daunKarena ingin Anthuriumnya selalu tampil bersih dan indah, para hobiis mengkilapkan daun dengan cairan pengkilap kimia dengan intensitas terlalu sering. Untuk pengelapan sehari-hari sebenarnya cukup menggunakan air bersih ( air mineral kemasan ) atau air biasa yang sudah diendapkan. Pengkilapan dengan cairan khusus cukup dilakukan dua minggu sekali atau sebulan sekali. Jika terlalu sering akan mengakibatkan terhambatnya proses asimilasi dan fotosintesis pada stomata daun. 9. Pengobatan yang tidak sesuai penyebabnyaPara penghobi masih banyak yang belum tahu perbedaan penyakit yang disebabkan jamur, ulat, serangga, bakteri ataupun kurang nutrisi. Sehingga banyak yang melakukan pengobatan tidak sesuai yang menyebabkan penyakit tidak kunjung terobati. Kenali dulu penyebabnya dan gunakan fungisida, bakterisida, insektisida atau pemberian nutrisi yang cukup. Ada juga yang menggunakan antiseptik untuk mengobati penyakit Anthurium, sebenarnya hanya berpengaruh sedikit pada bakteri saja tidak bisa menghilangkan sepenuhnya bakteri, jamur, cendawan ataupun ulat dan serangga.

Readmore...

Did you know? Tahukah anda?

Tahukah anda ? Dari seratus bibit jenmanii akan menghasilkan seratus karakter jenmanii yang berbeda. Tahukah anda ? 70% jenmanii di Indonesia bukan jenmanii spesies. Tahukah anda ? Bibit dari varian hybrid hanya sedikit yang mempunyai karakter seperti induknya. Bisa lebih banyak apabila disilangkan dengan jenis yang sama. Tahukah anda ? Anthurium Variegata alami paling banyak hanya 3-7 % jumlah bibit dari biji yang dihasilkan. Tahukah anda ? Waktu penyilangan/penyerbukan bantuan paling baik dilakukan antara jam 10 pagi – 2 siang. Tahukah anda ? Sebagian besar varian hybrid di Indonesia terjadi karena penyerbukan silang tidak di sengaja. Tahukah anda ? Sebagian besar breeder di Indonesia tidak mempunyai latar belakang ilmu tanaman. Tahukah anda ? 15-20% Artikel dan pemberitaan tentang Anthurium di media cetak salah kaprah dan mengada-ada. Kepentingan pasar dan dikutip dari sumber yang salah menjadi penyebabnya. Tahukah anda ? Perlu buku yang sangat tebal untuk membuat katalog baku tentang nama seluruh Anthurium di Indonesia. Dengan kata lain “mustahil” Tahukah anda ? Ramalan bahwa suatu saat rumah bisa dibeli dengan daun sudah ada di jaman Majapahit. (Deni Kurniawan)

Readmore...

Arctotis stoechadifolia P.J.Bergius

Family: Asteraceae Common names: silver arctotis ( Eng. ); kusgousblom (Afr.) A tough and fast-growing groundcover often seen in gardens around the world, Arctotis stoechadifolia surprisingly only occurs naturally along a small strip from the Cape Peninsula to the West Coast.
Description A sprawling perennial, the silver arctotis forms a striking silver-grey carpet that easily covers an area of about 1.2 m wide, with upright shoots and flowers standing about 350 mm high. The base of the plants become woody with age, but the long, spreading stems and leaves are soft, woolly and slightly sticky with a very strong bitter-sweet smell when touched. The white felted leaves are long and narrow (lance-shaped) with the edges slightly toothed or serrated. The showy flowers are large, single daisies with long, creamy to light yellow petals that are marked with red/maroon underneath. The centre of the flowers is black. Flowering for a few months from spring to summer (September-December), it creates quite a show with masses of flowers. Typical for Arctotis, the flowers only open with sunlight; the flowerheads curve down as they start to seed, only straightening up when the seed is ready to be blown away by the wind. The big, fluffy seeds ripen quickly within weeks after flowering and are easy to collect as they loosen and fall from the seed head. Conservation Status Arctotis stoechadifolia is not considered rare or threatened at present, but its natural distribution is limited to a very small area along the West Coast that is under increasing pressure from urban development. In California and Southern Australia where Arctotis stoechadifolia is often planted in gardens or as a coastal sand-stabilizing plant, it is starting to become a weed as it invades natural areas. This is a problem, as it smothers and eliminates the indigenous plants through shading and competition of resources, which again result in a loss of biodiversity, as large areas are covered only by Arctotis stoechadifolia. Distribution and Habitat Arctotis stoechadifolia occurs naturally on the dunes and sandy flats, mostly along the coast from Langebaan to the Cape Peninsula . Along this narrow distribution range, it is quite common and very vigorous, with beautiful plants and spring displays especially along the coastal strip between Bloubergstrand and Melkbosstrand. Very adaptable, Arctotis stoechadifolia manages to thrive in the harsh coastal conditions with hot dry summers, sandy conditions, strong winds, salt spray and low winter rainfall (500mm and less in this area). Derivation of name and historical aspectsThe genus Arctotis was named by Linnaeus and means the following in Greek: arctos, a bear, - otis, ear, and refers to the scales on the pappus (fine hairs on the fruit that aid in wind dispersal) that look like ears. The reason for the species name stoechadifolia is not clear, but stoechas or stoichas in Greek refers to a kind of mint (Brown 1956); stoechas could also mean, of the Stoechades (now the Iles d'Hyeres) off the south coast of France (Hyam & Pankhurst 1995). An African genus, Arctotis has about 50 species that occur from southern Africa to Angola . The species of Arctotis are very difficult to characterize ( Harvey 1865), which makes the identification of the different species very difficult, especially as there is no recent revision of the genus, plus and there are many natural and man-made hybrids. EcologyPlants are pollinated by bees that frequently visit the flowers during the day.
Uses and cultural aspectsArctotis species and hybrids are very popular garden plants across the world as they are easy to grow and very floriferous, with large flowers in a range of colours.
Flowering for a few months, Arctotis stoechadifolia can by used in endless combinations as the seasons change. At Kirstenbosch it is one of the most striking plantings in spring, hanging down a stone wall in front of a large spring annual bed filled with A. acaulis and Ursinia speciosa . In early summer it looks spectacular as a groundcover, flowering with the bright yellow Wachendorfia paniculata (bloodroot) and the annual Oncosiphon grandiflora ( stinkkruid ).
In coastal gardens this is one of the best groundcovers to retain the sand cover. Cultivation Arctotis stoechadifolia is easy to grow but must be planted in full sun and soil with good drainage. Adapted to the Mediterranean climate of the Cape , it can survive with very little water in summer after the winter rains. Plants need to be protected from frost, but should resprout after frost damage. Propagation Most of the Arctotis plants at Kirstenbosch are grown by cuttings made throughout the year. Tip cuttings taken from a healthy growing stem root easily and are placed in a tray filled with well-drained sand. The rooted cuttings are grown on in bags before planted into the garden, but could be planted directly into the garden beds especially during the cooler winter months. Seeds should be sown in seed trays during autumn and planted into small pots to be grown on as soon as they are a size that are easy to handle.Black, hairy worms attack plants in the garden and nursery, but it is not necessary to spray as they seldom do serious damage and the tough plants resprout vigorously. Author; Liesl van der Walt Kirstenbosch

Readmore...

BUNGA DAHLIA, CARA MENANAM DAN PERAWATANYA

Dengan penampilan baru, kini dahlia kembali diminati. Persilangan antar jenis menghasilkan dahlia baru dengan warna bunga dan variasi kelopak beragam. Menanam & PerawatanTanaman perdu asal Mexico ini sangat mudah ditanam dan berkembangbiak. Anda bisa memperbanyak dengan biji, stek batang, umbi atau pemisahan-anakan. Siapkan tanah kebun, kompos dan pasir halus. Tanam bibit dan siram secara teratur. Dalam 2 bulan, tanaman pun mulai berbunga.Walaupun menyukai sinar matahari, letakkan tanaman di tempat yang terkena sinar matahari pagi. Lokasi yang terlalu panas mengakibatkan tanaman berbunga kecil dengan daun berwarna kekuningan. Jika Anda menanamnya dalam pot, ganti media tanam sekali dalam setahun agar terjadi regenerasi dan terbentuk tanaman baru.Pemupukan KCL dan NPK perlu dilakukan saat tanaman mulai tumbuh dan menjelang berbunga agar dahlia tumbuh maksimal.Teks: Budi Sutomo

Readmore...

BUDIDAYA GERBERA / HEBRAS ( Gerbera jamensonii)

1. SEJARAH SINGKAT: Gerbera merupakan tanaman bunga hias berupa herba tidak berbatang. Masyarakat Indonesia menyebut gerbera sebagai gebras atau hebras. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman hias pendatang dari luar negri (introduksi) dan diduga berasal dari Afrika Selatan, Afrika Utara dan Rusia. Penemu tanaman gerbera adalah Traug Gerber, seorang naturalis berkebangsaan Jerman yang melakukan ekspedisi ke Afrika Selatan. Selanjutnya diketemukan gerbera hibrida oleh Jamenson. Berawal dari kedua penemu tersebut, tanaman gerbera dikukuhkan dengan nama Gerbera jamessonii Bolus. Tanaman hias ini masuk ke Indonesia sekitar abad XIX bersamaan dengan lintas perdagangan komoditi pertanian. 2. JENIS TANAMANKlasifikasi botani tanaman hias gerbera adalah sebagai berikut: Divisio : SpermatophytaSub Divisio : Angiospermae Famili : Compositae/Asteraceae Genus : Gerbera. Spesies : Gerbera jamensonii Dari keragaman bentuk bunga, terutama struktur helai mahkota bunganya dikenal empat jenis gerbera yang telah dibudidayakan di Indonesia yaitu: Gerbara berbunga selapis: helai mahkota bunga tersusun selapis dan umumnya berwarna merah, kuning dan merah jambu. Gerbera berbunga dua: helai mahkota tersusun bervariasi lebih dari satu. Lapis helai mahkota bagian luar nampak sekali perbedaan susunannya. Contoh berbunga lapis dua yaitu Gerbera jamensonii Fantasi Double Purple yang berwarna merah. Gerbera berbunga tiga lapis: contoh dari bunga jenis ini adalah Gerbera jamensonii Fantasi Triple Red yang berbunga dominan merah, kemudian bervariasi kuning atau hijau kekuningan. Jenis gerbera yang dihasilkan oleh Holand Asia Flori Net di Belanda, dengan ukuran yang lebih besar dari ke tiga jenis di atas. Varitas yang ditanam adalah Gerbara yustika (pink merah), Orange Jaffa (oranye cerah), Ventury (oranye tua). 3. MANFAAT TANAMAN Selain sebagai bunga potong yang dapat tahan sampai 3 minggu, Tanaman hias gerbera merupakan salah satu penghasil minyak atsiri untuk bahan baku industri minyak wangi, sabun dan kosmetik. 4. SENTRA PENANAMAN Sentra penanaman bunga potong tanaman gerbera di Indonesia yaitu di daerah Kaban Jahe, Barus Jahe, dan Simpang Empat (Sumatra Utara, Brastagi), Cipanas, Lembang dan Sukabumi (Jabar), Bandungan (Jateng), Batu dan Pujon (Malang Jatim). Sentra produksi tanaman gerbera di dunia adalah negara Belanda dan Thailand. 5. SYARAT PERTUMBUHAN 5.1. Iklim Curah hujan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman ini berkisar antara 1.900-2.800 mm/tahun. Daerah yang paling baik adalah daerah yang beriklim sejuk dengan suhu udara minimum 13,7-18 derajat C dan maksimum 19,5-30 derajat C. Suhu udara ideal di awal pertumbuhan 22 derajat C. Jika melebihi 35 derajat C, perkecambahan benih akan terganggu. 5.2. Media Tanam Tanah yang baik untuk tanaman hias gerbera yaitu tanah lempung yang berpasir, subur dan banyak mengandung bahan organik atau humus. Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok untuk budidaya hebras berkisar 5,5-6,0. 5.3. Ketinggian TempatDi Indonesia di tanam mulai dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian tempat antara 560-1.400 m dpl. 6. PEDOMAN BUDIDAYA 6.1. PembibitanPersyaratan Benih : Tanaman diperbanyak dengan cara generatif dan vegetatif. Benih diseleksi dari biji yang memiliki daya kecambah atau daya tumbuh yang tinggi dan berpenampilan bernas. Jika bibit dibeli dari toko, perhatikan tanggal kadaluarsanya. Perbanyakan vegetatif menggunakan cara kultur jaringan/anakan. Bahan kultur jaringan menggunakan mata tunas lateral dari pohon atau batang tanaman gerbera yang sehat dan dari jenis yang unggul. Bibit anakan didapatkan dari rumpun tanaman gerbera yang anakannya banyak, induknya produktif berbunga, tumbuhnya normal, sehat dan berasal dari tanaman jenis unggul. Keperluan bibit anakan untuk ditanam di lahan terbuka 1 ha sekitar 80.000-90.000 bila jarak tanam 25 x 40 cm. Penyiapan Benih : Benih yang berasal dari biji disemaikan dahulu sebelum dipindahtanamkan ke lapangan. Penyemaian dapat dilakukan pada bak-bak penyemaian atau pot-pot kecil maupun pot yang berdiameter cukup besar. Sebaiknya media semai diberi sungkup plastik agar kelembaban dan suhu udara tetap stabil serta terlindung dari matahari langsung. Bibit yang didapat dari kultur jaringan yaitu mata tunas yang diambil dari jenis unggul segera dimasukan ke dalam wadah yang mengandung bahan sterilisasi yaitu Clorax 30 %. Lakukan sterilisasi selama 20 menit. Seusai sterilisasi dengan Clorax segera disterilisasi ulang dengan HgCL2 20 % selama 5 menit, kemudian bilas dengan air aquades steril 5 X. Bibit yang dari anakan dipisahkan dari rumpun gerbera yang sudah dibersihkan dari tanah, sebagian akar tangkai dan daun tua dibuang. Tiap bagian minimal satu anakan. Teknik Penyemaian Benih : Penyemaian di bak persemaian : Pilihlah lokasi tempat semai yang mendapat sinar matahari pagi atau di dalam suatu ruangan yang mendapat cahaya buatan 40 watt/m 2 . Siapkan media semai berupa campuran tanah yang subur halus, pasir dan pupuk kandang yang telah matang dengan perbandingan 1:1:1. Beri sungkup plastik putih tipis agar kelembaban mencapai 98%. Sebelum dimasukkan media semai masukkan selapis pecahan batu bata atau genting kira-kira 1/3 bak pesemaian. Lalu isikan media semai 90 %. Semaikan benih gerbera secara merata. Setelah 5-7 hari, sungkup dibuka selama 1 jam pada pagi hari. Dari 7-10 hari setelah semai sungkup dibuka selama 3 jam/hari, kemudain bagian atas sungkup dibuka sampai 20 cm dari puncak untuk mendapatkan kelembaban 90 %. Pada saat umur bibit mencapai 21 hari, di sore hari sungkup diangkat. Penyemaian secara kultur jaringan : Siapkan media dasar yaitu medium Murashige Skoog ditambah gula 30 gram/liter, Vitamin B dan zat pengatur tumbuh kinetin 5 mg ditambah IAA 0,5 mg/liter. PH sebelum dipanaskan diatur sekitar pH 5,7 dengan penambahan NaOH atau HCl 0,1 N. Medium dibuat padat dengan Difco Bacto Agar (DBA) sebanyak 7,5 gram/liter. Tanamkan mata tunas lateral, pada umur 45 hari mata tunas majemuk mulai terbentuk. Bibit hasil kultur jaringan dipindahkan ke persemaian steril dan dipelihara sampai cukup besar. Selanjutnya bibit dipindahtanamkan ke persemaian biasa dengan komposisi media yang sama dengan persemaian benih. Penyemaian dengan anakan : Tanaman atau bibit anakan yang sudah dibersihkan dari tanah, akar-akar juga daun tua ditanamkan di lahan pembibitan dengan jarak 5 X 10 Cm. Pemeliharaan Pembibitan/Pesemaian : Siram setiap hari 1 atau 2 kali tergantung cuaca. Pemupukan dilakukan 3 minggu setelah semai. Larutan pupuk terdiri dari 5-10 gram NPK dalam larutan air 10 liter, sedangkan pupuk daun konsentrasinya disesuaikan dengan anjuran. Penjarangan setelah umur 5-6 minggu. Pemindahan Bibit : Bibit yang berasal biji siap dipindahtanamkan setelah tanaman berdaun 3-5 helai. Bibit yang berasal dari kultur jaringan siap tanam apabila ukurannya cukup besar, sedangkan bibit yang dari anakan siap dipindahtanamkan setelah bibit cukup kuat. 6.2. Pengolahan Media Tanam Persiapan : Tentukan lahan yang strategis dan serasi, bersihkan dari gulma, kemudian olah tanah cukup dalam 30 cm hingga struktur tanah gembur. Biarkan tanah selama 10-15 hari. Pembukaan Lahan : Tanah diolah dengan teknik yang sama dengan persiapan di atas. Pasang tiang setinggi 100-150 cm di sisi timur dan 80-100 cm di sisi barat. Naungi dengan plastik bening. Pembentukan Bedengan : Bentuk bedengan selebar 60-80 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara bedengan 40- 60 cm. Buat parit keliling untuk saluran pembuangan kelebihan air dan sekaligus sebagai saluran irigasi waktu mengairi tanaman. Naungan juga dapat dibuat sekaligus untuk 2 bedengan dengan tinggi sisi timur dan barat yang sama dengan naungan 1 bedengan. Di antara bedengan dipasang tiang setinggi 150-200 m sehingga atap berbentuk segi tiga. Pengapuran : Pada tanah yang kemasaman tanahnya rendah (di bawah 5) perlu ditambahkan kapur pertanian seperti dolomit, kalsit, atau Zeagro. Dosis kapur pertanian berkisar 1-4 ton/ha tergantung pH dan jenis tanahnya. Pemupukan : Pada saat pembuatan bedengan tambahkan pupuk kandang sebanyak 20-30 ton/ha yang disebar merata, kemudian dicampur dengan tanah sambil dibalikkan. Pemberian pupuk kandang dapat pula dengan cara per lubang tanam rata-rata 200 gram per lubang atau 2-3 kg/m 2 luas lahan. Media pertumbuhan adalah campuran tanah subur, pasir dan pupuk kandang atau sekam padi (1:1:1). Siapkan polybag berdiameter 15, 20, 25 dan 30 cm untuk menanam bibit sesuai dengan ukuran dan umurnya. Isi dasar polybag dengan selapis pecahan bata merah/sekam, lalu diisi dengan media sampai 90 %. Pupuk dasar berupa NPK yang diberikan sebanyak 2-4 gram/tanaman pada saat tanam. 6.3. Teknik PenanamanPenentuan Pola Tanam : Lubang tanam selebar dan sedalam daun cangkul pada jarak tanam 20-25 Cm dalam barisan dan 35-40 cm antar barisan. Waktu yang terbaik di pagi hari antara jam 06.00-09.00 atau sore antara 15.00-17.00. Cara Penanaman : Basahi lubang tanam sampai lembab, tanamkan bibit secara tegak ditengah-tengah lubang tanam, sambil memadatkan tanah di sekitar pangkal tanaman. Siramlah bedengan sampai cukup basah. 6.4. Pemeliharaan Tanaman Penjarangan dan Penyulaman : Jika ada tanaman yang mati/rusak seawal mungkin segera disulam atau diganti dengan tanaman yang baik pada lubang yang sama. Periode penyulaman sebaiknya tidak melebihi umur 30 hari setelah tanam. Waktu penyulaman yang baik pagi/sore hari. Penyiangan : Ditujukan untuk membersihkan sekitar tanaman dari gulma dan sambil menggemburkan tanah. Penyiangan dilakukan pada 7-10 hari setelah tanam dan 30-35 hari setelah tanam. Perempalan : Perempalan dilakukan untuk membuang tunas/cabang yang sudah tua, mengering maupun yang terserang penyakit. Pemupukan : Dilakukan secara rutin sebulan sekali. Jenis pupuk yang dianjurkan NPK serta unsur mikro lainnya. Jumlah pupuk NPK diberikan 2-4 gram/tanaman dengan periode 1 kali dalam sebulan, sehingga untuk setiap hektarnya antara 200-400 kg. Cara pemberiannya dengan cara dibenamkan dalam larikan atau lubang diantara tanaman. Pupuk NPK dapat diberikan dalam bentuk larutan dengan konsentrasi 10 gram/10 liter air dan diberikan sebanyak 200-250 cc/tanaman dengan periode pemberian 10 hari sekali. Pupuk daun dapat diberikan sesuai anjuran. Pengairan dan Penyiraman. : Pada fase awal pertumbuhan tanaman gerbera penyiraman dilakukan 1-2 kali. Pemberian air selanjutnya berangsur-angsur berkurang. 7. HAMA DAN PENYAKIT 7.1. Hama Ulat daun dan belalang : Pengendalian: dapat disemprot dengan insektisida seperti Decis 2,5 EC atau Agrimec 18 EC pada konsentrasi yang dianjurkan. 7.2. Penyakit Bercak daun Penyebab: jamur Cercospora gerberae Chuup et Viegas). Gejala: timbul bercak-bercak berwarna coklat, terbentuk bulat/tidak beraturan. Pengendalian: memotong/memangkas bagian-bagian yang terkena penyakit, memelihara sanitasi kebun dan penyemprotan dengan fungisida seperti Dithane M-45, Antracol 70 WP dan Daconil 75 WP. Kapang kelabu/grey Mould Penyebab: jamur Botrytis cinere Pers ex Fr.). Gejala: timbul busuk bunga, hingga kusut dan diliputi kapang yang berwarna kelabu. Pengendalian: sama dengan penyakit bercak daun. Penyakit tepung Penyebab: jamur Erysiphe cichoracearum DC). Gejala: daun gerbera diliputi oleh lapisan tepung, daun mengering dan gugur. Pengendalian: sama dengan penyakit bercak daun. 8. PANEN Ciri dan Umur Panen : Bunga gerbera yang siap dipanen adalah kuntum bunganya telah mekar penuh atau ketika bunga setengah sampai ¾ mekar. Pemanenan sekitar umur 6-8 bulan setelah tanam bibit asal dari biji, atau 3-5 bulan bila bibitnya berasal dari anakan. Perkiraan Produksi : Pada pertanaman gerbera yang baik dan jenisnya unggul, tiap rumpun gerbera dapat menghasilkan 5-15 kuntum atau sekitar 140 kuntum bunga per meter luas lahan per tahun. 9. PASCAPANEN Pengumpulan : Setelah bunga gerbera dipanen, dimasukkan ke dalam ember berisi air. Kemudian disimpan di tempat yang teduh untuk melakukan sortasi. Penyortiran dan Penggolongan : Sortasi dilakukan pada tangkai bunga yang ukurannya abnormal dipisahkan secara sendiri. Ikat tangkai bunga dengan karet/tali lentur. Tiap ikatan 10-15 tangkai bunga atau menurut permintaan pasar maupun mempertimbangkan segi praktisnya dalam pengangkutan serta penyimpanan. Pengemasan dan Pengangkutan : Kemas ikatan bunga dalam wadah kotak karton ataupun keranjang plastik dan tutup luka bekas potongan dengan kapas untuk mempertahankan kesegaran. Simpan dikontainer dan siap untuk diangkut. 10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN 10.1. Analisis Usaha Budidaya Perkiraan budidaya bunga gerbera seluas 1.000 m 2 yang dilakukan pada tahun 1999 di daerah Bandung. Biaya produksi Sewa lahan 1.000 m 2 selama 1 tahun Rp. 150.000,- Bangunan dengan naungan Rp. 3.000.000,- Bibit Bibit anakan 10.000 tanaman Rp. 2.500.000,- Pupuk Pupuk kandang 2.000 kg @ Rp. 100,- Rp. 200.000,- NPK 400 kg @ Rp. 2.000,- Rp. 800.000,- Pupuk daun dan bunga Rp. 400.000,- Tenaga kerja Pengolahan tanah dan pemupukan kandang 20 HKP Rp. 200.000,- Pembuatan bangunan naungan 20 HKP Rp. 200.000,- penanaman 5 HKW Rp. 37.500,- Pemeliharan tanaman 1 tahun 50 HKW + 5 HKP Rp. 425.000,- Panen dan pasca panen 20 HKW + 5 HKP Rp. 200.000,- 6. Biaya cadangan Rp. 1.000.000,- Jumlah biaya produksi Rp. 9.112.500,- Pendapatan 8.000 tangkai, 10 bunga/th.x Rp.200,- Rp. 16.000.000,- Keuntungan per bulan Rp. 573.950,- Parameter kelayakan usaha : 1. Rasio output/input = 1,756 Keterangan: HKP Hari kerja pria, HKW Hari kerja wanita. 10.2. Gambaran Peluang Agribisnis Di Indonesia tanaman hias gerbera belum berkembang pesat sebagai komoditas komersial. Dalam program penelitian dan pengembangan hortikultura di Indonesia mengklasifikasikan tanaman hias gerbera adalah tanaman introduksi dari luar negri. Namun apabila tanaman hias gerbera berkembang baik di Indonesia pasti akan dapat menjadi komoditas potensial/komoditas utama. Prospek pengembangan budidaya tanaman gerbera dapat diandalkan karena peminatnya di dalam negeri semakin banyak. Hal ini dapat dilihat dengan dominannya bunga ini di dalam rangkaian bunga. Harga satu kuntum bunga gerbera termasuk mahal. 12 tangkai Gerbera berbunga dua lapis (introduksi luar negeri) yang sudah banyak dibudidayakan berharga Rp. 10.000,- di tingkat petani, sedangkan 10 tangkai gerbera ex Holland berharga Rp. 15.000,- di tingkat petani. Tanaman ini juga dapat menjadi komoditas ekspor, selain sebagai bunga potong, bahan baku industri minyak wangi, sabun dan kosmetik. 11. STANDAR PRODUKSI 11.1. Ruang Lingkup Standar meliputi klasifikasi , syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan dan pengemasan. 11.2. Deskripsi : 11.3. Klasifikasi dan Mutu Standar Mutu dan pengepakan bunga untuk ekspor ke pasaran Internasional sangat ditentukan oleh negara pengimpor. 11.4. Pengambilan Contoh Dari satu partai atau lot bunga gerbera yang terdiri atas maksimum 1.000 kemasan, contoh diambil secara acak sejumlah seperti tersebut dalam data di atas: Contoh yang diambil semua, jumlah kemasan bunga dalam partai 1–5. Contoh yang diambil sekurang-kurangnya 5, jumlah kemasan bunga dalam partai 6–100. Contoh yang diambil sekurang-kurangnya 7, jumlah kemasan bunga dalam partai 101–300. Contoh yang diambil sekurang-kurangnya 9, jumlah kemasan bunga dalam partai 301–500. Contoh yang diambil sekurang-kurangnya 10, jumlah kemasan bunga dalam partai 501–1001. Dari setiap kemasan contoh yang dipilih secara acak diambil sekurang-kurangnya tiga tangkai bunga. Untuk kemasan contoh dengan isi kurang dari tiga tangkai, diambil satu tangkai. Dari sejumlah tangkai yang terkumpul kemudian diambil secara acak contoh yang berjumlah sekurang-kurang lima tangkai diuji. Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat, yaitu orang yang telah dilatih terlebih dahulu dan diberi wewenang untuk melakukan hal tersebut. 11.5. PengemasanIkatan bunga diselubungi dengan kertas khusus sleeves yang menutupi seluruh bagian bunga kecuali kuntum bunga bagian atas. Pangkal tangkai bunga diremdam dalam larutan pengawet misalnya larutan gula 6%. Tempat perendaman bersuhu udara dingin yaitu sekitar 14-25 derajat C selama 4 jam. Bunga yang telah diselubungi dikemas di dalam kardus karton/keranjang plastik dengan posisi tegak. Pengangkutan dilakukan dengan kendaraan berpendingin pada suhu udara 7-8 derajat C dengan kelembaban udara 60-65%. (WARINTEK)

Readmore...

Premium Pastel Anthurium


The highly prized pink, green midori and peach (not shown) anthurium demonstrate the subtle hues available of this most versatile flower. Many wedding bouquets are made up of pink and peach anthurium with delicate ferns wrapped with matching ribbon and tissue.

Readmore...

Penamaan dan aspek historis Adenium Multiflorum

J.J. Roemer dan J.A. Schultes memberi nama genus Adenium pada tahun 1819; hingga kini telah ada 12 spesies yang masuk ke dalam genus ini. Pada revisi terbaru oleh Plazier, hanya ada lima spesies yang dikenal di kawasan Afrika bagian selatan. Nama genus ini diambil dari dialek yang dikenal oleh penduduk setempat untuk Adenium obesum, yakni Oddaeyn, atau dari Aden, di mana A. obesum pertama kali ditemukan. J.F. Klotzsch memberi nama A. multiflorum pada tahun 1861 dari berbagai material yang dikumpulkannya di Mozambique. Arti dari bahasa Latinnya merujuk banyaknya jumlah dan serempaknya bunga yang mekar berbarengan pada tanaman ini. Pada revisi sebelumnya, L.E. Codd menganggap A. multiflorum sebagai suatu varietas dan G.D. Rowley menganggapnya sebagai subspesies dari spesies di utara, yakni A. obesum. Pada revisi paling akhir, A. multiflorum kembali menempati posisi sebagai spesies. Tiga spesies Adenium lain di Afrika bagian selatan adalah A. boehmianum, A. oleifolium dan A. swazicum. A. boehmianum terdapat di bagian utara Namibia. A swazicum, berprofil lebih kecil dan berbunga di musim panas dengan warna bunga pink, dijumpai di Mpumalanga dan Swaziland. A. oleifolium tumbuh di Limpopo, Northern Cape, Namibia dan Botswana. Hingga tingkat tertentu ketiganya pun telah dibudidayakan. EkologiTanaman ini ditemukan di berbagai habitat. Dalam kelompok besar cenderung tumbuh kecil dan menyemak. Di kawasan yang dilindungi, tanaman ini bisa tumbuh menjadi pohon yang gagah. Tanaman ini memiliki batang utama yang tebal dan berumbi di dalam tanah, yang berfungsi sebagai cadangan makanan di saat kemarau panjang. Secara alami berbiak dari biji, yang beradaptasi untuk penyebaran melalui angin dengan memiliki bulu-bulu halus dan ringan. ManfaatDi Afrika dan Afrika bagian selatan dimanfaatkan untuk meracun ikan atau dioleskan ke ujung tajam anak panah. Racun ini berasal dari getah dan bagian batangnya, tapi akan berfungsi dengan kombinasi dengan bahan racun lain. Daun dan bunganya beracun bagi kambing dan lembu, tapi menjadi pakan bagi hewan lain dan racunnya dianggap tidak terlalu kuat. Terlepas dari kadar racunnya, tanaman ini berguna pula sebagai obat.Dari aspek hortikultura, bunganya cukup bernilai. Ukuran yang besar dengan bunga mekar penuh dan serempak menjadi pemandangan indah tersendiri di antara genus sukulen, dan sangat dikagumi di kebun-kebun alam terbuka beriklim yang cocok. Adenium multiflorum dikembangkan secara luas di pondok peristirahatan di dalam Kruger National Park, misalnya.

Readmore...

Friday, April 25, 2008

ADENIUM MULTIFLORUM

Famili: Apocynaceae Nama Umum: impala lily (Ing.); impalalelie (Afr.). Adenium multiflorum adalah jenis adenium yang dikenal luas di Afrika Selatan. Ia berbunga di musim dingin, di saat hampir semua vegetasi cenderung ‘merehatkan diri’, A. Multiflorum justru tampil brilian dengan warna-warna putih, pink, crimson, merah, dan dwiwarna yang memenuhi seluruh tajuknya saat sedang bermekaran. Genus Adenium terdiri dari lima spesies sukulen dari daerah tropis Afrika, Arabia, dan Socotra. Formasinya yang menakjubkan sekaligus bunga indahnya yang kompak dan serempak serta mampu bertahan lama membuat genus ini dikenal sebagai tanaman hias. Deskripsi Adenium multiflorum berprofil semak atau pohon kecil setinggi 0.5-3m, bentuknya seperti miniatur baobab. Percabangan rimbun mencuat sejak dari bonggol yang berukuran besar dan tersembunyi di bawah tanah. Warna batang utama dan percabangannya kelabu terang hingga coklat, dengan getah lengket dan mengandung zat racun. Sepanjang tahun tanaman ini tidak banyak berbunga ataupun berdaun lebat. Panjang daun mencapai 100 mm, hijau cerah di bagian atas dan memudar di bagian bawah, biasanya ke arah ujung daun lebih melebar, dan berkelompok di ujung tunas-tunas pada percabangannya. Daun akan rontok pada saat akan berbunga. Bunga tumbuh dan mekar dalam kelompok-kelompok dompolan, tiap bunga berdiameter 50-70mm. Warnanya amat cantik, biasanya berpetal lancip warna putih dan tepi merah bergelombang, serta pola garis merah pada leher terompet. Kadang dijumpai bunga adenium multiflorum berwarna putih polos. Bunganya mengeluarkan aroma halus. Musim bunga berkisar pada bulan Mei hingga September. Buah normal berupa sepasang tanduk sepanjang kurang lebih 240 mm. Biji berwarna coklat dengan bulu halus di kedua ujung biji. Dalam daftar yang disebut Red Data di Swaziland, Zambia, dan Zimbabwe, Adenium (impala lily) dinyatakan sebagai keragaman hayati yang dilindungi. Penyebarannya sebagian besar terjadi pada musim gugur di Afrika Selatan di kawasan Taman Nasional Kruger. Perlindungan diberikan kepada adenium multiflorum karena pemanfaatannya sebagai tanaman koleksi, bahan obat-obatan, pembudidayaan, dan menjadi pakan hewan liar seperti misalnya baboon yang menyukai bagian akar. Distributsi dan Habitat Distribusi alami Adenium multiflorum meliputi Zambia tenggara, berlanjut ke Malawi, Zimbabwe dan Mozambique, Limpopo, Mpumalanga dan ke utara di KwaZulu-Natal di Afrika Selatan, serta Swaziland. Habitatnya meliputi wilayah tanah berpasir atau kawasan alluvium berbatu cadas, padang tandus terbuka ataupun padang rumput. Dijumpai terutama di dataran rendah dengan sedikit hujan dan di bagian timur Afrika Selatan, di selatan Sungai Zambezi, dengan ketinggian 1-200 m dpl. Adenium multiflorum tumbuh hanya di wilayah tandus Afrika Selatan, dengan penyebaran luas di Afrika bagian tengah dan Timur. Penamaan dan aspek historis J.J. Roemer dan J.A. Schultes memberi nama genus Adenium pada tahun 1819; hingga kini telah ada 12 spesies yang masuk ke dalam genus ini. Pada revisi terbaru oleh Plazier, hanya ada lima spesies yang dikenal di kawasan Afrika bagian selatan. Nama genus ini diambil dari dialek yang dikenal oleh penduduk setempat untuk Adenium obesum, yakni Oddaeyn, atau dari Aden, di mana A. obesum pertama kali ditemukan. J.F. Klotzsch memberi nama A. multiflorum pada tahun 1861 dari berbagai material yang dikumpulkannya di Mozambique. Arti dari bahasa Latinnya merujuk banyaknya jumlah dan serempaknya bunga yang mekar berbarengan pada tanaman ini. Pada revisi sebelumnya, L.E. Codd menganggap A. multiflorum sebagai suatu varietas dan G.D. Rowley menganggapnya sebagai subspesies dari spesies di utara, yakni A. obesum. Pada revisi paling akhir, A. multiflorum kembali menempati posisi sebagai spesies. Tiga spesies Adenium lain di Afrika bagian selatan adalah A. boehmianum, A. oleifolium dan A. swazicum. A. boehmianum terdapat di bagian utara Namibia. A swazicum, berprofil lebih kecil dan berbunga di musim panas dengan warna bunga pink, dijumpai di Mpumalanga dan Swaziland. A. oleifolium tumbuh di Limpopo, Northern Cape, Namibia dan Botswana. Hingga tingkat tertentu ketiganya pun telah dibudidayakan. Ekologi Tanaman ini ditemukan di berbagai habitat. Dalam kelompok besar cenderung tumbuh kecil dan menyemak. Di kawasan yang dilindungi, tanaman ini bisa tumbuh menjadi pohon yang gagah. Tanaman ini memiliki batang utama yang tebal dan berumbi di dalam tanah, yang berfungsi sebagai cadangan makanan di saat kemarau panjang. Secara alami berbiak dari biji, yang beradaptasi untuk penyebaran melalui angin dengan memiliki bulu-bulu halus dan ringan. Manfaat Di Afrika dan Afrika bagian selatan dimanfaatkan untuk meracun ikan atau dioleskan ke ujung tajam anak panah. Racun ini berasal dari getah dan bagian batangnya, tapi akan berfungsi dengan kombinasi dengan bahan racun lain. Daun dan bunganya beracun bagi kambing dan lembu, tapi menjadi pakan bagi hewan lain dan racunnya dianggap tidak terlalu kuat. Terlepas dari kadar racunnya, tanaman ini berguna pula sebagai obat. Dari aspek hortikultura, bunganya cukup bernilai. Ukuran yang besar dengan bunga mekar penuh dan serempak menjadi pemandangan indah tersendiri di antara genus sukulen, dan sangat dikagumi di kebun-kebun alam terbuka beriklim yang cocok. Adenium multiflorum dikembangkan secara luas di pondok peristirahatan di dalam Kruger National Park, misalnya. Menanam Adenium multiflorum Adenium multiflorum tumbuh baik di iklim hangat dengan drainase yang berpasir dan porous. Tumbuh kurang baik di iklim dingin. Sangat ideal di wilayah kering berbatu untuk menghasilkan bunga yang semarak menyambut musim dingin. Sebagai tanaman pot dapat disimpan di tempat lebih sejuk, tapi dengan penyiraman yang jarang atau dihentikan di masa dormant. Selain perbanyakan melalui grafting, tanaman ini tumbuh amat vigor jika dikembangkan dari biji, tapi amat jarang berbunga hingga mencapai usia 4-5 tahun. Takson ini akan terlihat dalam kultivasi, tapi ketersediaannya tidak seperti A. obesum, disebabkan pertumbuhannya yang cenderung lambat dan musim berbunga yang pendek. Di Shingwedzi Camp di Kruger National park terdapat beberapa spesimen tumbuh amat mengagumkan. Siram dengan baik selama cuaca panas. Jaga media tetap basah pada suhu sekitar 30ยบ C, cuaca panas sebaiknya diimbangi dengan kelembaban sedang hingga tinggi. Respon tanaman ini amat baik terhadap pemupukan imbang dan teratur. Tambahkan pupuk slow-release dan mikronutrien pada media tanam. Kekurangan air dan makanan akan menghambat pertumbuhan. Adenium sebaiknya ditanam dalam pot pada daerah beriklim dingin atau basah. Dormansi dapat diketahui saat konsumsi air menurun atau daun menguning: penyiraman secara drastis dikurangi dan hentikan pada saat tanaman dalam dormansi penuh. Munculnya daun-daun baru dan tunas-tunas baru menandakan berakhirnya masa dormant dan penyhiraman bisa ditingkatkan. Tanaman memerlukan ruang perakaran yang leluasa agar tumbuh cepat, dengan demikian diperlukan repotting untuk menyesuaikan perbesaran akar. Kelebihan air dan pupuk dibarengi kekurangan cahaya dan buruknya sirkulasi udara menyebabkan tanaman melemah dan pertumbuhannya melambat. Author: Stoffel Petrus Bester (Informant Asep Sugandi)

Readmore...

BUNGA MAWAR, SI BUNGA ROMANTIS

Penulis: Budi Sutomo. Hampir semua orang mengenal dan menyukai mawar (Rosaceae). Tanaman dari ordo Rosanales ini pantas dijuluki "ratu bunga". Rupanya yang cantik dengan warna beragam, membuat suasana taman jadi hidup dan semarak. Pesona mawar kian bertambah dengan tebaran aroma yang semerbak. Anda ingin mengenal lebih dekat dengan si lambang cinta ini? Sejak dulu bunga mawar mempunyai banyak varietas. Itulah sebabnya orang menyebutnya Rosaceae atau keluarga mawar-mawaran. Seiring dengan kemajuan teknologi budidaya keluarga mawar semakin beragam. Warna-warnanya pun semakin bervariasi dari merah, ungu, hitam hingga campuran beberapa warna. Tampilan kelopak bunga juga semakin bervariasi, dari yang berkuntum tunggal, ganda hingga bertumpuk. Mawar dikelompokkan berdasarkan perawakan dan sifat pertumbuhannya. Secara umum, ada 4 kelompok besar. Pertama, mawar semak yang banyak ditanam sebagai pagar. Kedua, mawar kerdil berupa tanaman dalam pot. Ketiga, mawar pohon dan terakhir mawar liana yang tumbuh merambat. Berkebun Mawar Menanam mawar sangat mudah karena bunga ini tidak memerlukan perawatan yang khusus. Mawar bisa tumbuh di daerah beriklim panas, sedang hingga dingin. Mawar membutuhkan media tanam tanah berhumus dan drainase/pengairan yang baik. Mawar kurang subur jika ditanam pada media yang terlalu gembur dan berpasir. Jangan lupa, pilih lokasi tanam yang cukup sinar matahari agar pohon rajin berbunga dan tumbuh subur. Menanam mawar banyak caranya, Anda bisa memperbanyak tanaman lewat biji, setek, okulasi, cangkokan dan membelah anakan. Lebih praktisnya, lakukan dengan cara setek. Agar mawar rajin berbunga, lakukan pemangkasan secara berkala supaya muncul tunas baru dan jangan lupa, beri pupuk perangsang bunga secara teratur. Satu hal yang perlu diingat, pemangkasan sebaiknya dilakukan pada musim hujan karena tunas akan segera tumbuh dan kuntum bunga baru akan bermunculan. Menanam Dalam Pot Jika Anda tidak punya lahan cukup, tanamlah mawar di pot. Memang untuk cara yang satu ini perlu perlakuan khusus dan sedikit ketelatenan. * Gunakan pot dari tanah liat/tembikar atau dari semen cor. Pot plastik kurang disarankan karena tidak berpori dan lembab sehingga akar mudah busuk dan suplai oksigen kurang. * Terapkan media tanam dengan perbandingan 1:1:1/4 antara tanah, pupuk kandang dan pasir halus. Jika memungkinkan, kukus lebih dulu media tanam agar mikroorganisme pembusuk mati dan mawar terbebas dari penyakit. * Tambahkan potongan batu bata atau batu kecil di dasar pot agar kelebihan air siraman dapat keluar. * Jangan lupa, lakukan pemotongan akar dan penggantian media setiap 1-2 tahun sekali agar tanaman tumbuh subur. Jika Anda merawat dengan baik dan penuh kasih sayang, si cantik ini dapat berbunga sepanjang tahun dan bisa bertahan hidup hingga 15-20 tahun. Mawar Potong Tahan Lama Keindahan mawar di jambangan akan sirna seiring dengan masa layu bunga. Agar bunga potong lebih tahan lama, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan. * Umumnya bunga layu karena pembusukan pada bekas pemotongan tangkai bunga. Kondisi ini akan menyebabkan bakteri pembusuk berkembang biak dan menyumbat saluran vaskuler. Akibatnya bunga cepat layu karena suplai makanan terhambat. Tambahkan asam benzoate pada air agar bakteri mati dan pembusukan dapat diperlambat. Cara lain, tambahkan 3 tetes cairan pemutih kain per 1 liter air. * Bunga potong juga memerlukan nutrisi untuk memperpanjang kesegarannya. Tambahkan 1 sdt gula pada 1 liter air perendam. Jika tersedia, Anda bisa menggunakan nutrisi khusus bunga potong yang tersedia di toko bunga potong. * Biasanya bunga potong akan menyerap air secara maksimal pada pH 3,5-4,5. Agar tidak menimbulkan dehidrasi, turunkan air pada pH ideal dengan menambahkan asam sitrat 200 mg per 1 liter air. * Gunakan vas dari kaca, keramik atau plastik dan hindari penggunaan vas bunga yang terbuat dari logam karena bunga biasanya sensitif terhadap ethylene dalam kandungan logam. * Potong pangkal batang menyerong agar penampang batang lebih besar dan serapan air lebih maksimal sehingga bunga lebih tahan lama. * Luruhkan daun yang tidak diperlukan agar bunga potong mendapat suplai makanan cukup. Bunga Simbol Kasih Sayang Ada banyak arti di balik setangkai mawar, mulai rasa tulus, sukacita, kasih sayang bahkan dukacita. Namun di balik semua itu, ada makna cinta yang tersirat di dalam mawar. Keanekaragaman warna bunga mawar seringkali mengungkapkan banyak arti. Agar tak terjadi salah pengertian, sebelum memberi kenali arti warna dibalik keelokan bunga mawar. Merah: cinta, keberanian, penghargaan Kuning: kegembiraan, kebahagiaan, kebebasan Pink/peach: terima kasih, syukur, kekaguman, penghargaan dan simpati Putih: penghormatan, kesucian hati, kerahasiaan, pertunangan Merah & Putih: kebersamaan.

Readmore...

Agapanthus africanus (L.) Hoffmanns

Family: Agapanthaceae Common name: Agapanthus Including Agapanthus africanus subsp.walshii (Leighton.) Zonn. & Duncan comb. Nov Agapanthus are one of South Africa's best known garden plants and are grown in most countries in the world. Their strap-like leaves and striking blue or white flowers make them favourites in plant borders as well as in containers. They are all easy to grow except for A. africanus and A. walshii which a recent publication (Zonneveld & Duncan 2003) has proposed is a subspecies of A. africanus. Agapanthus africanus was the first Agapanthus species collected in South Africa and was described in 1679 by the name Hyacinthus Africanus tuberosus, flore caeruleo umbellato. Plants were grown in containers in conservatories and flowered in Europe in the late seventeenth century. Sometimes Agapanthus africanus is still referred to as Agapanthus umbellatus and many laypersons as well as nurserymen confuse Agapanthus africanus with Agapanthus praecox, which is a popular, easily grown species. Any Agapanthus referred to as 'africanus' in the nursery trade is almost certainly Agapanthus praecox. Agapanthus africanus subsp. africanus Distribution Agapanthus africanus subsp. africanus is found only in the Western Cape Province, which is a winter rainfall area. The plants grow from the Cape Peninsula to Swellendam, from sea level up to 1000 metres, mainly in mountainous terrain in acidic sandy soil. They often grow between rocks and even in depressions on sheets of sandstone rock. The plants will not tolerate freezing weather for any length of time Description The perianth segments of A. africanus subsp. africanus are thick in texture and the flowers are open faced and range in colour from light to mainly deep blue. Rare sightings of white flowered plants have been recorded. Fires stimulate profuse flowering. After a recent fire in the Silver Mine Nature Reserve on the Cape Peninsula a single white flowered plant was noted amongst thousands of blue flowered ones. The plants flower mainly from December to February. The leaves are evergreen and strap like, about 15 mm wide with an average length of 350 mm. The flower stalk is usually under 700 mm tall. This subspecies is quite common and because of the fairly inaccessible terrain its survival is assured. Agapanthus africanus subsp. walshii (Leighton) Zonn and Duncan comb.nov. In a recent publication, Agapanthus walshii has been renamed as a subspecies of Agapanthus africanus. The authors, using nuclear DNA content (2C) and pollen vitality and colour are proposing that the ten species recognised by F.M. Leighton in her 1965 Agapanthus revision be reduced to six species and the name change Agapanthus africanus subsp. walshii has been published. This reclassification needs further study into the morphological characteristics of the plants to be fully supported. Distribution. This Agapanthus grows only in the Steenbras area of the Western Cape Province in a fairly restricted area. Although it was originally thought to be rare, it is fairly plentiful within its distribution area most of which falls within a conservation area and its future seems secure. Unfortunately an informal housing settlement has arisen in an unrestricted area where most of a colony of plants has been destroyed or is in danger of disappearing due to human activity. Agapanthus africanus subsp. walshii is found only at an altitude above 600 m and grows in very rocky areas in sandy acid soil. Description The flowers are pendulous, often light blue, seldom dark blue and rarely white. The leaves are evergreen, mainly erect and on average 10 mm broad and 200 mm long. The flower stalk is 600 mm tall. It also flowers best after a fire. Ecology of A.africanus Pollination is by wind, bees and sunbirds. Baboons and buck sometimes eat the flower heads just as the first flowers begin to open. The seed which is often parasitized is dispersed by the wind. These plants are adapted to survive fire in the fynbos. They resprout from thick, fleshy roots. Growing Agapanthus africanus Both subspecies of Agapanthus africanus are difficult to grow. A africanus subspecies africanus is not suitable as a garden plant except in rockeries. They are best grown in containers in a well drained, slightly acid sandy mix and appear happiest if pot bound. They seem to grow best in shallow containers and will flower regularly if fed with a slow release fertiliser. A. africanus subsp. walshii is by far the most difficult agapanthus to grow. The best medium appears to be a very well-drained, sandy, acid mix with minimal watering in summer. It can only be grown as a container plant and will not survive if planted out. It is unfortunate that it is so hard to grow because it is most attractive when in flower and would make an excellent pot plant. Both subspecies can be propagated by fresh seed. The seed germinates best if sown in a well-drained seed mix and lightly covered. The seed trays should be placed on heated beds under a mistspray set for about five minutes twice a day. Germination takes place in 4 to 6 weeks and the trays should then be removed to a lightly shaded area. Good results will also be obtained when the trays are placed indoors or outdoors in light shade and watered twice a day, provided the day time temperature is higher than 18° Celsius. Author; Richard Jamieson, Centre for Home Gardening, Kirstenbosch

Readmore...

Anggrek

Anggrek ditanam pada berbagai jenis medium seperti pakis, arang kayu, moss, kulit kayu, sabut kelapa, dll. Semua medium tersebut tidak mengandung unsur hara sama sekali. Fungsi dari medium tersebut hanya untuk menopang tanaman saja. Pupuk atau unsur hara yang diperlukan, diberikan melalui pemupukan rutin dengan cara penyemprotan ke seluruh bagian tanaman dan ke dalam medium tumbuhnya. Pupuk yang diberikan harus memenuhi kebutuhan tanaman. Pupuk ini terdiri dari unsur hara makro (N,P,K,S,Mg) dan unsur hara mikro (Fe,Zn,Cu,Mn,B,Mo). Tiap tanaman memerlukan kandungan unsur dalam takaran tertentu. Selanjutnya, tiap fase pertumbuhan tanaman juga memerlukan tiap jenis unsur hara dalam takaran tertentu pula. Pada anggrek, para praktisi mengelompokkan fase pertumbuhan tanaman menjadi tiga fase, yaitu fase vegetatif awal atau fase seedling atau fase pembibitan; fase vegetatif atau fase remaja; dan fase dewasa atau fase berbunga. Biasanya pada fase vegetatif awal, anggrek memerlukan unsur N (nitrogen) dalam jumlah yang tinggi sedangkan pada fase pembungaan maka unsur P (fosfor) dan K (kalium) diperlukan dalam jumlah yang tinggi. BAGAIMANA DENGAN PUPUKNYA? Sebenarnya sangat mudah membuat pupuk hidroponik untuk anggrek. Anda tinggal menyiapkan bahan-bahannya kemudian menimbang masing-masing komponen dan mencampurnya dengan seksama. Akan tetapi, kalau anda tidak punya waktu dan ingin mencoba, kenapa tidak mencoba produk kami yang sudah terbukti mampu membungakan Phalaepnosis. Pupuk hidroponik ini terdiri dari dua kemasan dalam tiap set nya. Satu set pupuk hidroponik produk kami terdiri dari: 1. HYDROANGGREK-A 2. HYDROANGGREK-B Cara menggunakan: Ambil HYDROANGGREK-A dan HYDROANGGREK-B masing-masing satu sendok takar ( 5 ml) yang menyertainya kemudian tuangkan ke dalam satu liter air. Aduk sebentar dan larutan pupuk siap digunakan. Praktis bukan! Dengan demikian dari setiap mililiter produk kami dapat digunakan untuk memupuk dengan jumlah pupuk sebanyak 200 ml.

Readmore...

Anthuriums

Anthuriums have been cultivated for many decades for cut flower production. Since the mid 1980's, Anthurium's popularity as a flowering pot plant has increased dramatically and has become a popular addition to many foliage growers' product lines. Anthuriums are relatively easy to grow, have attractive foliage and under the proper environment, produce long lasting flowers year round. Currently, numerous cultivars with different flower sizes, shapes, colors and some with delicate fragrances are available for the consumer. Commercially, Anthuriums are grown throughout the world with the heaviest concentrations in the United States (Florida) and The Netherlands. Anthuriums can be divided into four basic groups; A. andreanum cultivars, inter-specific hybrids between A. andreanum cultivars and dwarf species currently referred to as 'Andreacola' types, A. scherzeranum hybrids, and foliage Anthuriums. Anthurium andreanum, a generally large, somewhat open structured plant with large flowers, is commonly grown for cut flower production and sometimes adaptable to pot culture. New andreanum cultivars, selected specifically for pot culture are more compact. A. andreanum primary flower colors are white, pink, red, red-orange and green. 'Andreacola' cultivars are small to intermediate in overall size, fuller, more compact and generally produce smaller but more numerous flowers than andreanum cultivars. 'Andreacola' cultivars tend to have thicker, dark green leaves and many times show resistance to the more aggressive Anthurium diseases. Primary flower colors are white, pink, red and lavender. A. scherzeranum, the first widely cultivated Anthurium pot plant, is a small, compact plant. Primary flower colors are white, pink and red. Foliage Anthuriums come in numerous shapes and sizes and represent a minor portion of the total Anthurium pot market. However, it should be noted that most foliage Anthuriums are durable plants and offer the consumer distinct forms. Most Anthurium species are native to tropical rain forests and are primarily epiphytic in nature. Thus, in their natural habitat, they receive ample, frequent water with good drainage. In cultivation, Anthuriums prefer evenly moist media especially when actively growing. Overall, it is better to slightly underwater than overwater. Drying out may cause tip burn, root damage and reduced growth rates while over watering can also cause root damage and sudden yellowing of older leaves. Anthurium will not tolerate saturated, poorly drained soil mixes. Best results are achieved with a 1:1:1 ratio of Canadian peat, composted pine bark (watch for particle size; not too much dust) and perlite or airlite. Avoid vermiculite except in 4" (10cm) containers. In long-term crops, i.e., 6" (15cm) and up, vermiculite compacts and will water-log. Soil pH should be maintained between 5.5 and 6.5. Young plants are primarily propagated by tissue culture and available commercially either as microcuttings or as 72 or 98 cell liner trays. Depending on the cultivar's inherent branching and flowering habit, young plant producers use one to three plants (microcuttings) per liner cell. Cultural conditions, especially light intensity, are very important for young plant production. Finish growers should avoid using young plants grown under low light conditions. Most pot Anthuriums are sold in 6" and 8" (15-20cm) containers, with a smaller percentage in 4" and 10" (10-25cm) containers. Crop finish times will vary depending on cultivar, pot size and cultural environment. Except in the case of scherzeranum, growers should consider Anthurium a long term floral crop. Under the sub-tropical climate of Florida, most 6" container crops are finished in 8 to 1 0 months using 72 or 98 cell tray young plants. Scherzeranum is usually grown in 31/2 to 6" (9-15cm) containers and will finish in 4 to 7 months. A young plant supplier will be able to give recommendations on the optimum container size and finish times for each individual cultivar. Moderate but consistent levels of a complete fertilizer are important. Magnesium requirements in Anthurium plant tissue are higher than most foliage crops especially in warmer climates. Because of the long-term nature of Anthurium crops, special attention must be paid to ensure continued availability of Magnesium. Per cubic yard of soil, incorporate 10 lbs. (4.5kg) of dolomite and 31/2 lbs. (1.6kg) Hi-Cal lime to balance the Calcium and Magnesium ratio. Regular foliar applications of Magnesium sources (Epsom Salts, Magnesium Nitrate, etc.) will help prevent Magnesium deficiencies. After 24-26 weeks, a top-dressing of dolomite (3 tbsp/10" pot) or another Magnesium source will help insure continued availability of Magnesium. Top-dressings of Epsom Salts are beneficial but short-lived. Avoid high nutrient levels especially after planting young plants. Liquid fertilizer on a constant feed program should not exceed 250 ppm Nitrogen (N). On mature plants, occasional rates as high as 400 ppm N are acceptable, but must be alternated with watering. Tests have shown that plants given frequent doses of 300-400 ppm N grow slower, have lighter flower colors and produce thick deformed leaves. When using overhead irrigation system to dispense liquid fertilizer, a quick rinse with pure water is beneficial since liquid fertilizer left on foliage can damage leaves causing grayish corky scars. With dry fertilizer applications, it is very important to water frequently to reduce salt build-up. When using time-release fertilizers, carefully consider crop times and if necessary reapply to avoid deficiencies. Anthuriums grow best with day temperatures of 78 to 90°F (25-32°C), and night temperatures of 70 to 75°F (21-24°C). Temperatures above 90° F may cause foliar burning, faded flower color and reduced flower life. Night temperatures between 40 to 50°F (4-10°C) can result in slow growth and yellowing of lower leaves. Scherzeranum cultivars require lower temperatures in the range of 68 to 80°F (20-27°C) daytime and 60 to 70°F (15-21°C) nights. Anthuriums will not tolerate frost or freezing conditions. Anthuriums grow under a wide range of light intensities but their actual performance is dependent on the cultivar, elevation, temperature and nutrition. Generally, most Anthurium types grow well at light intensities ranging from 1,500 to 2,500 f.c (1627klux). Light intensities higher than 2,500f.c. (27 klux) can result in faded flower and leaf color. Scherzeranum cultivars are best grown at light intensities between 1,000 and 1,500 f.c. (11-16klux). Preventive maintenance programs for mites, snails, slugs, worms, thrips and white flies are important. White flies are especially attracted to the new growth and once established are difficult to eradicate. A number of chemicals are effective for pest management, however, cultural conditions and cultivars will determine what you can use safely. Many growers have experienced phytotoxicity on numerous Anthurium cultivars from the use of certain pesticides. Never apply pesticides while plants are under any form of stress, i.e., moisture or hot temperatures. Anthurium blight, caused by Xanthomonas campestris pv dieffenbachiae, is by far the greatest challenge to the anthurium grower. While many of the pot type varieties (specifically the 'Andreacola' varieties) are resistant or partially resistant, many of the hybrids with larger, showier flowers have no resistance. Xanthomonas is a bacterium. The pathovar Xanthomonas campestris pv dieffenbachiae is specific to plants in the Araceae family and is most pathogenic on Dieffenbachia, Aglaonema, and Anthurium. The disease can easily spread from one genus to another in this group. Syngoniums and pothos also have the potential to host strains of Xanthomonas which may be pathogenic to Anthuriums. There is no available chemical cure for Xanthomonas blight. While some chemicals are effective as a preventive measure, none of the fungicides/bactericides in the market today will actually cure an infection. Thus, the only effective way of controlling blight is via sanitation and prevention. Virtually all of the pot type Anthuriums in the market today are produced from tissue culture. As plants will not survive in vitro infected with Xanthomonas, plants directly harvested from tissue culture can be considered free of infection. However, young plants weaned in the greenhouse are susceptible to infection. The same sanitation practices should be in place in young plant production as those practices effective in finished production. Since Xanthomonas can exist in plants without any visible symptoms, it is wise to isolate incoming plant material for observation before introducing into the production facility. Proper cultural practices and sanitation can be effective in prevention and spread of blight. Cultural practices: Keep foliage dry if possible. Drip irrigation and hard cover are essential when growing susceptible cultivars. Lower humidity will decrease guftation and can help dry the foliage faster if using overhead irrigation. Give plants ample spacing to allow for good air circulation. Avoid condensation with the use of fans. Avoid hanging plants above your Anthurium crop. High Nitrogen fertilization makes plants more susceptible to infection. Preventive maintenance programs of Copper based fungicides alternated with bactericides of streptomycin or oxytetracycline can help prevent infection. However, Copper can be phytotoxic to many cultivars! Sanitation: Disinfect all benches, pots, and tools coming in contact with plant material. Prevent standing water under benches. Routinely (preferably daily) rogue out any infected plants. This is most effective at the end of the day. Do this when foliage is dry and remove all infected plants and plant parts from the greenhouse premises. Avoid any unnecessary movement through aisles. Avoid cross-contamination by isolating susceptible crops. Aglaonemas imported from the tropics are frequently carriers. Inhouse vegetative propagation of Dieffenbachia and Aglaonemas should be kept far from tissue cultured plants. Many Anthurium cultivars are susceptible to Phytophthora, Rhizoctonia, Pythium, Colletotrichum and Pseudomonas. Although there are a number of effective fungicides for these diseases (we have not seen phytotoxicity from proper use of the popular chemicals available), the best approach is prevention via cultural practices. Keep plants off the ground, provide good ventilation and avoid overhead irrigation during late afternoon or evening hours. As a matter of caution, all new pesticides should be used in a controlled test on a small percentage of each cultivar grown. Always allow four weeks for phytotoxic symptoms to appear. Most often, symptoms occur as distortion and/or discoloration of new growth. Since their introduction, potted Anthuriums have generated a great deal of excitement at retail and with the end user. Anthuriums are durable and will survive as an indoor foliage plant for a remarkable period of time, even under adverse conditions. The big plus of course is the added canopy of color. If the last few years are any indication, Anthuriums as flowering pot plants will continue to grow in popularity. As a result of breeding programs, new and improved cultivars will be introduced which will help Anthuriums gain additional market share. Growers of Oglesby Anthuriums

Readmore...

Perawatan Sedernaha Bonsai

Dalam perawatan bonsai kesabaran anda sangat diperlukan. Ketahuilah bahwa yang sedang anda kerjakan adalah merawat tumbuhan khusus. Langkah utama yang paling diperlukan untuk merawat bonsai adalah pemberian air, pupuk, pemangkasan perkembangan cabang maupun ranting, banyaknya cahaya, dan pencegahan hama bagi tanaman bonsai. Sesederhananya anda merawat bonsai memerlukan ketelitian anda dalam mengerti kebutuhan tanaman. Pentingnya kontinuitas serta pemberian kebutuhan tanaman yang tepat, merupakan suatu awal keberhasilan pembentukan bonsai. Sebenarnya tiada aturan yang baku sekali, untuk merawat bonsai dikarenakan kebutuhan tanaman satu dengan yang lainnya berbeda. Pengairan Ketelitian merupakan kata yang paling tepat untuk melakukan pengairan terhadap tanaman bonsai. Tidak hanya rutinitas pengairan yang dituntut disini tapi pengetahuan tentang keperluan tanaman akan air merupakan suatu keharusan yang tentunya membutuhkan sebuah pengalaman dan skill tersendiri dalam melakukan pengairan. Sebagian mayoritas pengalaman perawat bonsai memberikan opini bahwa pemberian air pada waktu awal dimulainya hari merupakan halterbaik dalam perawatan bonsai. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pengairan. Jenis tanah adalah bagian yang harus diperhitungkan dalam pengairan, artinya kita akan mengukur tingkat kadar ph dalam air demi memperoleh kecocokan yang berkesinambungan dengan tanah untuk memudahkan perkembangan akar. Penentuan kapan kita memerlukan air tawar yang berasal dari tanah dan kapan waktu yang tepat untuk menyiram tanaman dengan air hujan adalah keputusan yang tersendiri. Bentuk pot juga harus diperhatikan karena bentuk pot akan menjadi bahan pertimbangan dari mana kita akan mengucurkan air dan kemana air akan jatuh agar penyiramannya menyeluruh dan merata. Suhu udara dan keadaan cuaca juga cukup mempengaruhi kapan waktu yang sangat tepat untuk melakukan penyiraman. Penyiraman yang berlebihan adalah pembunuhan secara pelan namun pasti bagi bonsai karena akan timbul berbagai masalah hama yang terlambat untuk diperbaiki. Begitu juga bila tanaman ini kekurangan air yang mana hal ini seakan menjadi sebuah bentuk lonceng kematian bagi kehidupan tanaman bonsai. Lembabnya tanah menjadi ukuran yang penting untuk menentukan waktu yang tepat dalam pemberian banyaknya air. Peralatan yang digunakan untuk menyirami tanaman umumnya tersedia ditoko penjualan tanaman hias, yang mana alat ini memang mudah diperoleh. Butuh kesabaran dan intensitas waktu yang lebih adalah sebuah pedoman hidup yang harus selalu dipegang dalam merawat tanaman yang satu ini. Apabila melihat lebih dalam tentang nilai esensial yang terkandung dalam seni merawat bonsai, maka anda akan menyadari bahwa mengatur keperluan suatu hal secara adil dengan tanpa mengetahui keinginan yang mau kita penuhi adalah suatu hal yang sangat sulit. Pemberian pupuk. Pemberian pupuk suatu kebutuhan yang terpenting kedua setelah air. Dalam pemberian pupuk dasar yang terpentingnya bukan pada pemacu perkembangannya, melainkan agar kesehatan bonsai cukup terjaga. Pada dasarnya berbagai macam merk pupuk yang ada dipasaran mempunyai kualitas tidak jauh berbeda antara sat dengan yang lainnya, namun yang terpenting adalah Terkandungnya beberapa jenis zat yang berguna bagi kesehatan bonsai yaitu nitrogen, fosfor, dan potassium. Nitrogen diperlukan oleh bonsai karena zat ini mampu memberikan kesejukan bagi akar. Perubahan kadar oksigen dalam tanah dapat berkurang dikarenakan adanya perubahan panas suhu ruangan atau terjadinya kelembapan tanah yang berlebihan, maka dibutuhkan nitrogen sebagai keseimbangan kadar oksigen didalam tanah. Untuk fosfor zat ini mempunyai kegunaan utama yaitu sebagai zat senyawa yang dibutuhkan bagi kesehatan perkembangan tanaman, dan kegunaan dari potassium bagi bonsai adalah sebagai pelengkap sinergi antara nitrogen dan fospor. Selain pupuk anda juga bisa mendapatkan penambah kesehatan tanaman bonsai dalam berbagai macam vitaminnya. Kegunaan dari vitamin ini untuk menambah daya tarik dari bonsai itu sendiri seperti mengkilapnya daun, kuatnya ranting dan sebagainya. Pemangkasan perkembangan ranting dan dahan. Seorang penanam bonsai dapat menemukan keasyikannya dalam merawat bonsai disaat perawatan ranting dan daun. Saat perawatan ranting dan daun inilah yang merupakan perwujudan sisi kreatif manusia, yang tentunya tanpa menghentikan perkembangan tanaman itu sendiri. Pemangkasan yang baik memerlukan alat pemangkasan yang tepat. Untuk pemakaian alat yang dibutuhkan tergantung dengan apa yang hendak dipangkas karena pemangkasan untuk ranting, daun, pucuk, maupun serabut akar diperlukan alat tersendiri. Pemangkasan pada ranting biasakanlah untuk memangkas bagian bawah ranting yang tidak diinginkan, karena pemotongan pada bagian itu akan menghentikan pertumbuhan ranting yang kita tidak inginkan. Memangkas bagian daun juga harus dilakukan tepat pada bagian awal tumbuhnya daun. Pemangkasan serabut akar harus dilakukan untuk mencegah pertumbuhan serabut akar yang liar. Cara memangkas yang baik adalah dengan tidak menimbulkan bentuk luka yang permanen pada bagian yang dipangkas. Untuk alat pemangkasnya dapat anda peroleh dari toko tanaman hias di sekitar anda. Cahaya. Seberapa banyaknya cahaya yang diberikan, merupakan penilaian tersendiri terhadap tanaman anda. Bagaimana iklim lingkungan anda merupakan suatu ketentuan yang harus diperhatikan oleh sang perawat bonsai. Matahari tetap adalah cahaya terbaik bagi semua jenis tanaman yang ada di muka bumi ini. Untuk pemelihara bonsai yang melakukan perawatannya didalam kamar setidaknya setiap pagi sinar matahari dari arah jendela dapat digunakan untuk keperluan cahayanya. Bagi anda yang merawat tanaman bonsai dengan iklim yang mempunyai musim dingin yang mana cahaya matahari tidak dapat ditemukan dapat digantikan dengan cahaya lampu yang telah dirancang khusus untuk keperluan tanaman bonsai. Keperluan untuk cahaya buatan dapat disesuaikan dengan keadaan iklim udara dimana perawatan tanaman ini dilakukan. Untuk memperoleh cahaya buatan dapat diperoleh ditoko tanaman hias. Bagi perawat bonsai yang berada pada iklim yang cenderung panas, maka suhu ruangan tanaman bonsai harus dijaga agar tidak terlalu panas. Pencegahan hama Pada dasarnya pencegahan hama akan sangat terbantu apabila pemberian air, pupuk, dan pemotongan ranting dilakukan dengan teratur juga terukur. Bukan berarti juga keteraturan tersebut menghilangkan bahaya adanya hama. Dikarenakan kondisi pemberian pencegah hama merupakan penilaian kebutuhan tersendiri, maka pengenalan pada kebutuhan tanaman harus lebih diperhatikan. Bahan kimia yang terdapat dalam pencegah hama untuk masa sekarang ini telah tergantikan oleh zat yang terkandung dalam bunga ataupun tumbuhan obat – obatan. Seiring penyempurnaan dari bahan pencegahan hama ini untuk yang terbarunya adalah bakteri yang berasalkan dari jamur. Untuk memperoleh pencegah hama dapat anda peroleh ditoko tanaman hias disekitar anda. Berkonsultasilah dengan para penjualnya untuk memberikan pencegah hama yang cocok untuk anda. Pemeriksaan pada tanaman dan pemberian zat pencegah hama hendaknya dilakukan secara berkelanjutan.

Readmore...

HYDROPONICS

Hydroponics is the method of growing plants without soil. THERE ARE A LOT OF CHOICES confronting the soon-to-be indoor gardener. Choice is good, but it can get a little overwhelming and the novice grower may soon have difficulty seeing the forest for the trees. When considering what type of growing materials and equipment you will require, it is important that you first determine how you intend to grow. Choose a cultivation practice that suits your skill level and perhaps your busy lifestyle. The following is a basic overview that may help shed some light on the strengths and weaknesses associated with four basic types of growing: organic, hydroponic, soilless, and aeroponic. Hydroponic plant production systems can range from simple to very complex in construction and management. True hydroponic systems use no growing media; plants are mechanically supported and nutrients are supplied in a hydroponic fertilizer solution. The solution may be recirculated throughout the growing media or drain-to-waste. The nutrient solution may be applied intermittently or constantly. In a hydroponic nutrient solution, plant nutrients are supplied chemically in specific ratios and quantities in a variety of plant-available forms to optimize nutrient uptake. Nutrients can be precisely formulated for optimal nutritional levels in each stage of the plant’s development. Essentially, growers may tailor a nutrient diet for their specific growing variety, cycle, and conditions. With experience, growers may be able to push crops with intensive nutrient management. Complex hydroponic systems are not often recommended for inexperienced growers or those lacking time to monitor and adjust the system. However, novice growers who have purchased complete aeroponic systems supplied with a level of support, specific nutrients, and application directions have had some incredible results. Sometimes the novice grower looks to save money and attempts to construct or replicate a complex hydroponic system. The results can be poor due to the grower’s focus on system design, construction, and operation, rather than on actual crop management. Construction is what a professional manufacturer would call product development. Be prepared for the possibility of a steep learning curve when fabricating a new system if you are relatively new to growing or growing system construction. For example, using the wrong kind of adhesive may be the kiss of death. If you are not aware of what you are doing, the crop may be finished before you even plant it. Hidroponik berasal dari bahasa Latin hydros yang berarti air dan phonos yang berarti kerja. Hidroponik arti harfiahnya adalah kerja air. Bertanam secara hidroponik kemudian dikenal dengan bertanam tanpa medium tanah (soilless cultivation, soilless culture). Pada awalnya bertanam secara hidroponik menggunakan wadah yang hanya berisi air yang telah dicampur dengan pupuk, baik pupuk mikro maupun pupuk makro. Pada perkembangannya, bertanam hidroponik meliputi berbagai cara yaitu bertanam tanpa medium tanah, tidak hanya menggunakan wadah yang hanya diisi air berpupuk saja. Medium pasir, perlite, zeolit, rockwool, sabut kelapa, adalah beberapa bahan yang digunakan oleh para praktisi di dunia dalam bertanam secara hidroponik. Menurut pengertian ini, maka menanam anggrek (kecuali anggrek tanah) sebenarnya merupakan salah satu praktek bertanam secara hidroponik. Ada beberapa sistem hidroponik yaitu NFT (Nutrient Film Technique), Ebb-Flow, Deep Flow Technique, Drip Irrigation, Aeroponics, aquaponics.

Readmore...

MEDIA TANAM ANTHURIUM

Media tanam merupakan untuk tumbuhya tanaman, untuk itu maka media tanaman harus sesuai dengan kebutuhan tanaman. Sesuai dengan kebutuhannya, secara umum media tanam tanaman hias dapat dibedakan menjadi beberapa kreteria yakni : tanaman yang suka kering (xerofit), tanaman yang suka agak lembab (mesofit) dan tanaman yang suka lembab (hidrofit). Anthurium termasuk tanaman yang suka media agak lembab. Untuk itu media tanamannya harus diambil dari bahan-bahan yang mamapu menahan air dengan baik tetapi tidak terlalu jenuh air. Pakis Sebagai Media Dasar Dalam menetapkan media tanam dalam suatu tanaman, khususnya tanaman hias maka sebagai dasar pertimbangan utama adalah habitat aslinya saat tanaman tersebut masih tumbuh di alam. Habitat asli di hutan untuk tanaman Anthurium adalah bonggol kayu sisa tebangan atau kayu roboh yang sudah membusuk. Untuk itu maka media dasar yang untuk pembudidayaan tanaman Anthurium ini adalah pakis. Pakis merupakan pohon jenis palm, pohon pakis mempunyai batang yang berserat kasar. Batang pakis yang telah ditebang dan diproses maka akan dihasilkan potongan-potongan serat yang sangat cocok untuk pertumbuhan Anthurium. Sifat media pakis ini adalah ringan, sangat porous dan mampu menahan air dengan baik. Bila disiram air, kondisi media pakis akan mampu mempertahankan kelembaban tetapi tidak jenuh air. Disamping itu, porousitas yang baik akan mampu memberikan susunan udara (aerasi) yang baik. Aerasi sangat dipengaruhi oleh susunan pori makro pada media. Media pakis, karena tersusun dari serat-serat kayu yang kasar maka susunan pori makronya sangat baik. Anthurium merupakan jenis tanaman yang mempunyai perakaran yang banyak. Bila diukur pertumbuhan akar akan jauh lebih tinggi disbanding pertumbuhan bagian tanamn di atas tanah (daun, bunga, dan buah). Sehingga keremahan media menjadi penting diperhatikan. Keremahan media merupakan suatu kodisi yang menentukan mudah tidaknya akar menembus media tanam. Media yang remah artinya media memberikan kondisi yang mudah untuk akar menembusnya. Media pakis merupakan media yang sangat remah karena bentuknya yang halus dan sangat lunak sehingga akar tanaman Anthurium mudah untuk menembusnya. Media yang baik akan memberikan suasana yang baik pula untuk pertumbuhan dan kesehatan akar. Akar Anthurium yang sehat bercirikan dengan akar yang berwarna putih. Akar yang tidak sehat akan berwarna cokelat kehitaman. Bila media tidak porous maka kebanyakan akar akan membusuk. Sebagai akibatnya tanaman tidak akan tumbuh dengan baik. TIPS Susunan air (drainase) dan susunan udara (aerase) pada media merupakan hal yang sangat penting diperhatikan. Lebih-lebih untuk tanaman hias yang suka media kering dan suka media agak lembab. Kunci kesehatan tanaman dan pertumbuhan tanaman yang baik sebenarnya terletak pada media. Apabila kita sudah mendapatkan media yang cocok bagi suatu jenis tanaman maka perawatan dan pemeliharaan selanjutnya akan menjadi lebih mudah. Media yang kurang baik akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat dan menjadikan tanamn kurang sehat. Perlukah Campuran? Anthurium merupakan jenis tanaman yang tiadak rakus pada unsure hara. Di habitat aslinya mereka sudah mampu tumbuh dengan baik hanya di bonggol kayu bekas tebangan yang sudah membusuk dan dengan siraman air hujan. Seperti telah kita ketahui bahwa air hujan sudah cukup mengandung unsur nitrogen. Oleh sebab itu campuran pupuk kandang atau bahan organik lain yang ditambahkan ke dalam media pakis cukup sedikit saja. Kira-kira 10% dari volume media pakis sudah cukup. Pupuk yang sering dipakai sebagai bahan campuran media pakis adalah pupuk kandang dan organik. Pupuk kandang yang dapat digunakan adalah pupuk kandang sapi, pupuk kandang kerbau, pupuk kandang kambing dan pupuk kandang ayam. Dari hasil pengamatan secara praktek diperoleh gambaran bahwa pupuk yang lebih baik adalah pupuk kandang sapi dibanding pupuk kandang yang lain. Sedangkan pupuk organik yang cocok digunakan sebagai campuran antara lain pupuk organik dari dedaunan kaliandra, pupuk organik dari seresah daun bambu dan cocopit. Penggunaan pupuk kandang dan pupuk organik harus benar-benar dari pupuk yang sudah masak dan bentuknya sangat lembut, sehingga perlu dilakukan penyaringan terlebih dahulu sebelum dipakai sebagai campuran media. Ketersediaan pakis sebagai bahan media dasar untuk budidaya Anthurium semakin hari semakin berkurang. Hal ini karena semakin berkembangnya peminat dan penggemar Anthuirium. Untuk itu perlu dikaji bahan-bahan lain yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti media pakis. Untuk hal itu bisnis media tanam Anthurium masih terbuka luas dan bisnis media ini jiga cukup menjanjikan. Pada umumnya para penggemar tanaman, bahkan ditingkat nursery pun tidak mampu dan mau meramu sendiri media tanam ini. Beberapa Campuran Media untuk Athurium
Presentase Penggunaan Campuran Media (%)
Alternatif 1 : Pakis 90, Pupuk Kandang 5, Kompos Kaliandra 5
Alternatif 2 : Pakis 90, Kompos Kaliandra 10
Alternatif 3 : Pakis 90, Pupuk Kandang 5, Kompos daun bambu 5
Alternatif 4 : Pakis 90, Pupuk Kandang 5, Cocopit 5
_________________
David Noor Mubarok

Readmore...

Jenis Tanaman Hias

Semakin hari jenis tanaman hias semakin banyak, harganya pun ikut bervariasi mulai dari ribuan sampai puluhan juta rupih bisa kita temui. Beberapa jenis tanaman hias yang sedang merajalela saat ini adalah euphorbia, aglaonema, adenium, anthurium, sansieviera, dan masih banyak lagi. hanya sebagian kecil contoh dari tanaman hias yang sedang membooming saat ini. Ada banyak faktor yang menyebabkan harga tanaman hias melambung tinggi. antara lain : 1. jenis tanaman hias langka. 2. perawatannya tergolong sulit. 3. jenis tanaman hias tersebut sedang nge-trend. Di Indonesia, aglaonema lebih dikenal dengan sebutan sri rejeki atau chinese evergreen. Genus aglaonema terdiri dari 30 spesies. Aglaonema memiliki tingkatan harga yang bervariasi. Mulai Rp1.500 per daun untuk jenis donacarmen, hingga Rp5 juta per daun (jenis Tiara). Setiap tanaman bisa berupa bibit dengan satu atau dua daun, hingga yang berdaun cukup banyak. Tiara, misalnya, sempat membuat sensasi dengan harga jual mencapai nilai Rp5 juta per daun. Hingga kini, aglaonema kreasi Gregorius Hambali ini masih diminati oleh para hobiis dan kolektor tanaman karena warnanya yang indah. Satu tanaman dengan tujuh tunas muda yang dipisahkan menjadi bibit bisa terjual hingga Rp30 juta. Sejak kemunculannya, tiara telah menaikan harga aglaonema lain. Seiring dengan terkenalnya aglaonema, demam adenium juga mulai merebak. Tanaman yang dikenal dengan sebutan kamboja jepang ini menarik perhatian karena bunga dan bonggolnya yang mampu membesar seperti bonsai. Bagian akar tanaman itu juga termasuk bagian yang disukai.Bagian akar ini dapat menggembung dan berbentuk unik. nah, bagi anda para hobis tanaman hias tekunilah hobi anda itu.siapa tau saja tanaman yang sedang anda kembangkan saat ini akan ngetrend di tahun mendatang. itung-itung bisa untuk investasi juga toh.kala sudah begitu, yang senang kan juga anda sekeluarga

Readmore...

Wednesday, April 23, 2008

Anthurium

CHARACTERISTICS: Cut flowers are a wonderful gift, but after they die, all you're left with is an empty vase! An everlasting alternative is the Anthurium plant. Put it in an attractive container, and "voila". The foliage is shiny and dark green, while the flowers are very showy. Available in reds, pinks, lavender, and whites, the flowers are heart shaped, and can last up to 8 weeks. Anthuriums require little care, and bloom almost continuously in good conditions. This blooming plant likes bright light and needs to dry out to the touch between watering, making good drainage essential. Even when they are not in bloom, they are a beautiful foliage plant. To get continual blossoms, you will need to use a blooming plant food. Look for a food where the middle number is the largest of the three numbers, representing high phosphoric acid content. When the first number, representing Nitrogen, is the largest number, it is good foliage plant food, and the third number, representing Soluble Potash, is for stronger root development, which is a good transplanting food. Feed your Antherium every other month to ensure a healthy blooming plant. With the Anthurium, as with any houseplant, the more light, the more foliage, the more water, the more plant food. One common problem with blooming plants is they seem to come with gnats. Gnats are the small black pesky flies that seem to fly up your nose and into your eyes! They like dark moist environments. I found the best way to avoid gnats is to keep your decorative containers cleaned out, and don't let water sit in the bottom. If your plants are directly planted in the containers, let them dry to the touch between watering.

Readmore...

BUNGA KAMBOJA, BUNGA TROPIS YANG EKSOTIS

Bunga tropis satu ini memang elok dipandang. Kuntum bunganya membentuk rosset dengan semburat warna terang di tengahnya. Bunganya beraroma harum lamat-lamat membuat kamboja seolah menyimpan pesona mistis. Belakangan, kamboja semakin digemari karena mengandung aneka manfaat. Banyak orang mengira kamboja berasal negara Kamboja. Dugaan ini keliru karena ternyata tanaman ini berasal dari daratan Amerika Tengah.Kamboja (Plumeria SP) ditemukan Charles Plumier (1646-1706), botanis asal Perancis. Untuk mengingat sang penemu, nama belakang charles Plumier diabadikan menjadi nama latin bunga ini. Keluarga KambojaKapan dan bagaimana kamboja menyebar ke Indonesia, tak ada data yang pasti. Menurut beberapa sumber, tanaman kamboja menyebar ke Indonesia melalui Belanda.Satu hal yang pasti, Indonesia juga memiliki varietas kamboja asli: jenis kamboja berbunga putih dengan bagian dalam berwarna kuning. Bunganya berukuran kecil dengan kelopak yang tidak terbuka penuh saat mekar. Kamboja jenis ini banyak di temukan di Jawa dan tempat-tempat peribadatan di Bali.Pakar botanis menemukan empat jenis (spesies) kamboja: plumeria obtusa, plumeria pudica, plumeria rubra dan plumeria acutifolia. Selain empat jenis di atas, ada pula Rubra Tricolor atau Rubra Hybrid yang merupakan hasil silangan.Jenis silangan ini biasanya memiliki tanda berupa warna bunga yang bervariasi dan berkelopak besar. Varietas plumeria rubra, misalnya, ditandai ujung daun dan kelopak bunga runcing. Sedangkan plumeria obtuse ditandai dengan ujung daun dan kelopak membulat. Karakteristik KambojaKamboja sangat cantik sebagai elemen taman. Banyak area taman publik, perkantoran dan halaman rumah menjadi asri dengan kehadiran bunga ini. Sosok keseluruhan tanaman ini sangat eksotis dengan bentuk batang yang sangat artistik dan dekoratif.Sebetulnya, kamboja termasuk tanaman sekulen (banyak mengandung air). Pohonnya bisa bertahan hidup hingga puluhan tahun dan mencapai tinggi 7-10 meter. Daunnya berwarna hijau dengan urat daun jelas terlihat.Bisa dibilang, kamboja dapat berbunga sepanjang tahun. Bahkan, pada bulan-bulan tertentu kamboja berbunga banyak. Tangkai bunga muncul dari ujung batang, pada setiap tangkai bunga bisa dijumpai puluhan kuntum bunga. Biasanya, kamboja berbunga serentak, namun ada jenis tertentu yang bergantian. Mudah Berkembang-biakUmumnya, kamboja mudah berkembang-biak. Bisa dengan penyemaian biji atau stek batang. Tanaman ini juga bisa tumbuh di dataran tinggi dan rendah. Satu hal yang perlu diperhatikan, kamboja termasuk tanaman sekulen yang sering kekurangan air. Namun, bila kelebihan air batangnya menjadi busuk karena virus. Kamboja juga suka sinar matahari sepanjang hari, jadi tanamlah di area terbuka.Untuk media tanam, sebaiknya gunakan media porus (tidak mengikat air). Misalnya, tanah kebun, pasir kasar dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Siram secukupnya 2 kali dalam seminggu.Selain ditanam di lahan terbuka, kamboja juga terlihat cantik bila ditanam dalam pot. Pot dari semen cor ukuran besar paling cocok untuk kamboja. Hindari pot plastik karena lembab dan sistem drainasenya kurang baik.Agar tampil prima, beri pupuk NPK setiap enam bulan sekali. Tanaman ini jarang terserang penyakit. Ulat dan belalang pengerat tak menyukai daun dan batangnya yang bergetah. Yang sering kita jumpai justru daun layu akibat serangan kutu dan virus daun.Hindari penyakit layu daun dengan menjaga kebersihan media dan lakukan penyemprotan fungisida dan insektisida secara berkala. Mengobati Berbagai PenyakitSelain cantik dipandang, kamboja juga menyimpan sejuta manfaat. Getah putih yang terdapat di seluruh bagian tanaman mengandung fuvoplumierin. Zat ini dipercaya dapat mencegah pertumbuhan bakteri. Bunganya yang cantik bermanfaat sebagai obat turun panas, batuk melancarkan air seni dan buang air besar.Senyawa lain, seperti plumerid yang terdapat dalam kulit batang dapat menyembuhkan tumit pecah-pecah. Satu hal yang perlu diperhatikan, hindari getah kamboja dari mulut dan mata. Zat aktif yang terkandung di dalamnya dapat membuat gigi rontok dan merusak mata. Penulis: Budi Sutomo

Readmore...

Bunga Miana, Tanaman Hias Daun Penyemarak Taman

Tanaman hias daun, pada umumnya didominasi warna hijau. Miana atau Coleus (Coleus hybrid) tampil memikat dengan warna-warna kontras. Kehadiranya di taman akan memberi nuansa lebih semarak. Cocok ditanam masal sebagai tanaman hamparan atau border. Menurut literatur, beberapa jenis coleus berasal dari daratan Afrika yang beriklim tropis dan negara-negara Asia. Tanaman yang masih keluarga Labiatae alias bayam-bayaman ini memang cantik dan memikat mata. Warna daunnya beraneka ragam mulai dari keemasan, kehitaman (Curly lava) pink (Alabama sunset), merah (Plum parfait), kekuningan (Yellow parfait) ungu hingga kombinasi dari beragam warna. Bentuk daun juga bervariasi, oval, tepi bergerigi, hingga keriting. Majunya teknologi pertanian, kini banyak dihasilkan coleus hibrida hasil silangan sehingga dihasilkan warna daun yang kian beragam. Mudah Diperbanyak Coleus bisa dikembang biakan dengan beragam cara. Setek pucuk dan perbanyakan dengan biji, cara umum yang banyak dilakukan. Semaikan biji pada media tanah campur pupuk kandang. Setelah biji mempunyai 4-5 daun, tanaman bisa dipindahkan ke media tanam yang sebenarnya. Cara lain yang lebih cepat dan mudah menghasilkan tanaman baru adalah setek pucuk. Caranya, potong pucuk sepanjang 15 cm. Tancapkan pada media tanah kebun, kompos dan pasir halus perbandingan 2:1:1. Tak perlu syarat khusus, cukup disiram secara teratur dan pastikan sistem darainase baik. Setelah beberapa 2-3 minggu tanaman biasanya sudah mengeluarkan tunas barunya. Suka Cahaya Matahari Menanam dan meletakkan coleus sebaiknya pada area yang terkena sinar matahari langsung, meletakkan coleus di tempat tertutup/ternaungi akan membuat daun dominan warna hijau dan tidak cerah. Agar tampil prima, pupuk tanaman ini dengan pupuk NPK setiap 2 bulan sekali dengan dosis 1 sendok teh setiap tanaman. Tanaman coleus biasanya akan menurun kualitasnya jika tanaman sudah tua, seperti daun mengecil, warna memudar, percabanganya tak beraturan dan pertumbuhanya lambat. Untuk peremajaan, lakukan pemangkasan habis pada seluruh cabang. Pemangkasan akan merangsang timbulnya tunas baru sehingga tanaman semarak lagi. Coleus cocok ditranam sebagai tanaman penutup tanah/hamparan atau sebagai tanaman pembatas/border. Tanaman ini juga cantik sebagai tanaman hias dalam pot, namun jika Anda meletakannya di dalam rumah atau diteras, sebaiknya 2 hari sekali harus diletakan di luar ruangan agar terkena sinar matahari dan daun kembali cerah. Hama dan penyakit coleus tidak terlalu banyak, umunya yang menyerang hannya sebatas ulat daun, belalang dan busuk akar karena kelebihan air siraman. Jaga sanitasi area tanam, jangan berlebihan memberi air siraman dan semprotkan insektisida secara berkala untuk memberantas hama penggangu. Penulis: Budi Sutomo

Readmore...

Anemone fanninii Harv. ex Mast.

Family : Ranunculaceae Common names: giant wild anemone ( Eng. ); syblom, groot anemoon (Afr.); umanzamnyama (Zulu) This stately anemone with beautiful white flowers and large, velvety palmate leaves from the eastern grasslands of South Africa would be an asset to any colder region garden. DescriptionAnemone fanninii is a perennial herb with a well-developed, woody rootstock, up to 1.2 m tall. The palmate (5- to 7-lobed) leaves are up to 350 mm in diameter, velvety above and hairy beneath, with red-tipped, toothed margins. Gibson (1978) aptly describes the upper surface of the leaves as ‘soft as a kitten'. However, it is the lovely creamy-white, fragrant flowers, often tinged lilac or pink, appearing from August to December, which make this species so striking. Cythna Letty's beautiful watercolour painting featured here shows a flower with numerous, densely crowded, yellow stamens surrounding the pistils (female reproductive structures). This painting appears in:Flowering Plants of Africa, volume 37, plate 1441. Published by The South African National Biodiversity Institute (formally the Botanical Research Institute) in 1965. A. fanninii can be distinguished from its sister species A. caffra by the branched inflorescence stalks, and the fact that the leaves are only partly developed at flowering. It is also a much larger plant. Conservation Status A. fanninii is not threatened, but is gathered for the traditional medicinal trade. Distribution and Habitat This species is found in KwaZulu-Natal , the Eastern Cape , Free State and Limpopo , all summer rainfall regions which experience cold dry winters at altitudes of between 1 150 and 2 100 m. According to Pooley (1998) it is found in moist depressions and near streams, but it has also been seen on dry hillsides and even in disturbed areas. Derivation of name and historical aspects: Anemone is a genus of about 120 of flowering plants in the buttercup family, Ranunculaceae, in the north and south temperate zones. Anemones, widely grown as spring flowers, are well known to gardeners throughout the world. There are three species in South Africa. The anemones derive their name from anemos, Greek for wind, reportedly because of their tendency to nod in even the slightest breeze. However, Elsa Pooley (1998) gives a much more romantic derivation: nahamea —a corrupted name for the Greek god Adonis who was killed while hunting wild boar on Mount Olympus, his blood causing red A. coronaria plants to spring up” First collected in 1863 by Fannin at his farm in Dargle , KwaZulu-Natal , specimens were sent to Harvey in Dublin , who named the plant after him, but failed to provide a description. It was later collected by Adlam and described by Masters. EcologyLittle is known about the pollination or seed dispersal of Anemone fanninii. Uses and cultural aspectsHutchings (1996) states that the roots of A. fanninii are used as traditional medicine, probably in the same way as A. caffra. The latter is used for biliousness and the roots are also used in sorcery. The plant is used horticulturally in the United Kingdom. Killick, in 1965 noted that this anemone ‘has proved very difficult to cultivate away from its natural habitat, although it has been successfully grown in the United Kingdom ', and, in fact, features in many British and Scottish nursery catalogues on the internet today. This indicates that it probably requires cold winters to do well. Collect seed in October and November and sow immediately into a seedling medium such as pine bark. Prick seedlings out into containers at the 4-leaf stage. Plants are ready to be put out into the garden after overwintering, in the early spring. As is the case with most summer rainfall geophytes, these plants die back during the winter months and are best left alone. The empty spaces left by the dormant plants can be oversown with spring annuals such as Heliophila coronopifolia to provide early spring colour. Author; Isabel Johnson; Natal National Botanical Garden

Readmore...