Google
 

Friday, November 30, 2007

Tanaman Katuk Gampang Ditanam Dan Banyak Gunanya

>


Tak banyak mungkin yang melirik tanaman satu ini. Padahal, khasiatnya banyak. Dari segi keindahan pun, ia tak kalah dari tanaman hias lain. Tak selamanya pekarangan ditanami dengan tanaman hias yang sudah kesohor. Ada kalanya, justru tanaman yang "biasa-biasa" saja dan asing yang dipilih untuk menjadi penghuninya. Salah satu alasannya adalah karena tanaman itu punya potensi dan manfaat. Katuk, misalnya. Tanaman bernama latin sauropus androgunus ini oleh orang Minangkabau disebut dengan "simani." Sementara di Jawa, selain disebut katuk, tanaman ini juga dinamakan "katukan" atau "babing." Orang Madura menyebutnya "kerakur" dan orang Bali lebih mengenalnya dengan "kayumanis." Tanaman katuk sesungguhnya sudah dikenal nenek moyang kita sejak abad 16. Sayangnya, di masa berikutnya, ia kurang mendapat tanggapan. Padahal, tanaman ini memiliki potensi besar. Salah satu contohnya, masyarakat Desa Benteng Kecamatan Ciampea Bogor berhasil menjual daun katuk dalam kemasan plastik ke sebuah supermarket dan pasar lainnya dengan harga per-kilo seribu rupiah. Selain itu, masih banyak manfaat lain. Sampai sekarang, dikenal 2 jenis tanaman katuk, yakni katuk merah yang masih banyak dijumpai di hutan belantara. Sebagian pehobi tanaman hias mencoba menanamnya, karena tertarik pada warna daunnya yang hijau kemerah-merahan. Jenis kedua adalah katuk hijau, yang kini diusahakan orang, terutama dimanfaatkan daun-daunnya. Ini karena pertumbuhan daun katuk hijau lebih produktif ketimbang katuk merah. BERTANAM DI PEKARANGAN : Katuk termasuk tanaman merumpun, berbentuk perdu dengan ketinggian sekitar 3 - 5 meter. Batangnya tumbuh tegak dan berkayu. Jika ujung batang dipangkas, akan tumbuh tunas-tunas baru yang membentuk percabangan. Daunnya kecil-kecil mirip daun kelor, berwarna hijau. Katuk termasuk tanaman yang rajin berbunga. Bunganya kecil-kecil, berwarna merah gelap sampai kekuning-kuningan dengan bintik-bintik merah. Dari bunga bisa menjadi buah kecil-kecil berwarna putih. Tanaman katuk bisa pula dipajang di halaman sebagai tanaman hias, entah sebagai tanaman hias peneduh atau tanaman hias berbunga. Caranya, cangkul tanah pekarangan sampai gembur, dan biarkan selama sekitar 2 minggu. Buatlah bedengan-bedengan, dan tambahkan pupuk kandang sebanyak 2 kg/m2. Sementara itu, siapkan bibit berupa stek batang. Cara membuat bibit, pilih batang yang sehat, lalu potong-potong sekitar 30 - 40 cm, dan bersihkan daunnya. Jika memungkinkan, pangkal stek diolesi hormon Rootone untuk mempercepat tumbuhnya akar. Stek ditanam pada tanah bedengan, dan tancapkan sedalam 5 - 10 cm, dengan jarak 20 x 20 cm. Padatkan tanah di sekeliling pangkal batang stek, lantas siram sampai cukup basah. Setelah berumur sebulan, beri pupuk Urea sebanyak setengah sendok makan per tanaman. Kemudian, setiap bulan berikutnya, beri setengah sendok makan pupuk Urea plus seperempat sendok makan KCl per tanaman. Daun pun akan tumbuh produktif, menghijau, dan segar. Daun bisa dipetik saat tanaman berumur 4 bulan. Pemetikan bisa dilakukan setiap bulan. DARI ASI HINGGA PEWARNA ALAMI : Daun katuk ternyata kaya kandungan gizi. Dibandingkan daun pepaya dan daun singkong, kandungan kalori, protein dan karbohidrat daun katuk 'nyaris' setara. Bahkan, kandungan zat besi daun katuk lebih unggul ketimbang daun pepaya dan daun singkong. Selain itu, juga kaya vitamin A, vitamin B1 dan vitamin C (lihat tabel). Di samping kaya protein, lemak, vitamin dan mineral, daun katuk juga memiliki kandungan tanin, saponin falvon/oid, dan alkaloid papaverin, sehingga sangat potensial untuk dijadikan bahan pengobatan alami. Salah satu manfaat daun katuk adalah untuk melancarkan produksi air susu ibu (ASI), karena mengandung senyawa asam seskuiterna. Selain melancarkan ASI, daun katuk juga punya beberapa manfaat, antara lain: 1. Frambusia : Dinamakan penyakit frambusia, karena bentuk dan rupa penyakit ini mirip dengan buah frambus. Penyakit frambusia atau patek atau puru, banyak terdapat di tempat-tempat yang sukar mendapatkan air bersih. Penyakit ini gampang menular. Untuk mengobatinya, siapkan seperempat genggam daun katuk yang telah dicuci bersih dan digiling sampai halus. Tambahkan seperempat cangkir air masak dan sedikit garam, lalu aduk sampai merata. Berikutnya, peras dan saring. Air perasaan diminum, sedangkan ampasnya digosok-gosokan pada bagian badan yang terserang frambusia. Lakukan 2 kali sehari hingga sembuh. 2. Sembelit : Sembelit merupakan "gejala" dari suatu penyakit. Penyebabnya banyak, seperti terlalu lama duduk, kurang minum air, menahan-nahan buang air besar, serta adanya ketidak lancaran kerja hati dan kandung empedu. Untuk mengusir sembelit, siapkan 200 gram daun katuk yang segar, lalu bersihkan. Rebus dengan segelas air selama 10 menit, lalu saring. Minum air hasil saringan tersebut secara teratur. 3. Borok : Penelitian menunjukkan, pada ekstrak daun katuk ditemukan zat penghambat pertumbuhan bakteri escheria coli, staphylococcus aureus, dan salmonella typhosa. Itu berarti, ekstrak daun katuk bisa menyembuhkan borok. Siapkan segenggam daun katuk, lalu cuci dan lumatkan. Tempelkan lumatan daun katuk pada bagian badan yang terserang borok. 4. Pewarna Alami : Daun katuk ternyata bisa juga dipakai sebagai pewarna alami pengganti pewarna yang mengandung zat kimia. Contohnya pada industri tape ketan yang berwarna hijau. Caranya, cuci bersih daun katuk, tambahkan sedikit air, lalu peras. Hasilnya adalah sari daun katuk. Campur atau larutkan sari daun katuk bersama beras ketan bahan tape. LALAP DAN MINUMAN : Daun katuk bisa dikonsumsi sebagai lalapan, sayuran maupun minuman. Bagaimana caranya? 1. Lalap : Pilih 50 gram daun katuk yang mulus dan segar, bersihkan dari tangkai-tangkainya, lalu cuci bersih. Sementara itu, didihkan segelas air dan tambahkan seperempat sendok teh garam. Masukkan daun katuk ke dalam air yang mendidih, aduk-aduk, lalu tutup selama sekitar 3 - 4 menit. Setelah itu, angkat dan tiriskan. Untuk menambah rasa sedap, sajikan lalap daun katuk dengan 3 sendok makan sambal kacang. 2. Sayur Menir : Sediakan 50 gram daun katuk, 50 gram jagung madu yang telah diiris-iris, dan 1,5 gelas air. Untuk bumbunya terdiri atas: setengah ruas jari kelingking temukunci, selembar daun salam, 1 siung bawah merah, 1 siung bawang putih, seperempat sendok teh gula pasir, dan seperempat sendok teh garam. Caranya, bersihkan daun katuk dari tangkai dan kotorannya, lalu rebus irisan jagung muda bersama bumbu yang sudah dilembutkan. Masukkan daun katuk ke dalam rebusan jagung muda, aduk-aduk, dan tutup. Biarkan selama 5 menit, lalu angkat. Nah, kini sayur daun katuk siap disantap. 3. Minuman : Ambil 300 gram daun katuk yang segar dan bersih, kemudian rebus dengan 1,5 gelas air selama 15 menit. Saring air rebusan, dan minum air hasil saringan tersebut.

No comments: